Garis Panduan Dan Prosedur Operasi Stasiun Pengolahan Nut.
Stasiun ini meliputi peralatan sebagai berikut :
A. Claybath Separator
B. Ripple Mill
C. Nut Silo
D. Kernel Silo
Stasiun ini dijalankan untuk membantu menaikkan tekanan di Boiler dengan cara mensuplai Shell sebagai bahan bakar. Yang pertama harus dijalankan adalah claybath Separator, Ripple Mill, Shaking Greate Nut Silo ( Outlet ). Kernel silo kemudian pengisian Nut Silo.
A. Claybath Separator
1. Pemeriksaan pendahuluan
a. Periksa pompa dengan memutar memakai tangan untuk mastikan tidak ada penyumbatan setelah habis proses.
b. Periksa level air dan tambahkan jika kurang. Jika terjadi kehilangan inti ( losses ) yang tinggi atau pemisahan tidak stabil, maka air larutan CaCo3 harus diganti.
c. Periksa dan bersihkan saringan pada Vibrating screen.
2. Menjalankan
a. Jalankan pompa dan biarkan air tersirkulasi.
b. Jalankan Stirrer agar air dengan kalsium karbonat dapat bercampur.
c. Mengukur dengan Hidrometer untuk mengetahui BJ air. Jika BJ air kurang dari 1,14 tambahkan kalsium karbonat sampai didapat sesuai standar.
d. Jalankan Vibrating Screen dan buka kran air sedikit mungkin untuk pencucian dengan hasil shell/kernel bersih.
e. Jalankan Transport Fan untuk wet shell dan wet kernel.
f. Jalankan Cracked Mixture Elevator sebelum Ripple Mill beroperasi.
3. Operasi
a. Claybath Separator harus memperoleh perhatian yang cukup dari operator.
b. Berat jenis air harus tetap dipertahankan pada 1,14 dan level air harus tetap dipertahankan.
c. Tetap dilakukan pemeriksaan secara visual terhadap kehilangan inti di shell dan mutu kernel.
4. Menghentikan
a. Hentikan Ripple Mill dan umpan ke Claybath Separator.
b. Lanjutkan operasi Claybath Separator hingga tidak ada lagi shell dan kernel yang dikeluarkan.
c. Hentikan mesin dengan urutan yang berlawanan dengan prosedur menjalankan.
d. Matikan air pencuci.
e. Pastikan semua Isolator dalam posisi mati( Off ).
5. Panduan Untuk Pengendalian Mutu
a. Pastikan kehilangan inti di shell dipertahankan kurang dari < 3 % dari sample.
b. Pastikan total Shell didalam kernel dipertahankan dibawah 7 %.
c. Periksa sample agar Broken Nut dan Whole Nut masing - masing tidak melebihi 1 % dari sample. Jika terjadi, Periksa kembali produksi agar dapat di temukan penyebabnya.
6. Pencatatan
a. Waktu menghidupkan dan mematikan mesin.
b. Pencatatan Berat Jenis ( Bj ) air setiap jam.
7. Tugas –Tugas Operator
a. Tetap memelihara kebersihan mesin-mesin dilingkungan kerja.
b. Memastikan mesin beroperasi dengan benar.
c. Memastikan mutu dan efesiensi dipertahankan dengan parameter control.
d. Memastikan Throughput dipertahankan sesuai dengan level Nut silo.
e. Tetap melakukan pencatatan seperti waktu menghidupkan dan memastikan serta alasannya, pembacaan amper dsb.
f. Memberitahukan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi gangguan atau kerusakan mesin.
g. Melaksanakan prosedur operasi yang telah digariskan oleh pimpinan seperti prosedur menghidupkan dan menghentikan dan juga instruksi yang spesifik diberikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
B. Ripple Mill
Peralatan dibagian ini meliputi :
Vibrating Feeder, Ripple Mill, Cracked Mixture Conveyor, Cracked Mixture elevator, Kernel & shell Separating Column, Dry Shell Cyclone.
1. Pemeriksaan pendahuluan
a. Periksa Chute yang mau masuk ke Ripple Mill karena biasanya terjadi penumpukan nut dan kotoran. Setiap pagi bagian ini harus dibersihkan.
b. Periksa Ripple Mill apakah tersumbat atau tidak akibat proses malam sebelumnya.
c. Periksa apakah system Pneumatik dan Fan bersih dan tidak ada gangguan serta Cyclone untuk kernel Transport dan wet shell tetap bersih.
2. Menjalankan
Sebelum bagian ini beroperasi, Claybath Separator, Fuel Conveyor ( di boiler ) sudah beroperasi.
Urutan-urutan untuk menjalankan sebagai berikut :
a. Jalankan Shell Cyclone Fan ( termasuk air lock )
b. Jalankan Cracked Mixture Conveyor
c. Jalankan Cracked Mixture Elevator.
d. Jalankan Ripple Mill.
e. Pastikan Wet kernel & Wet Shell Transport Fan telah jalan.
f. Jalankan Shaking Grate dari Nut silo.
3. Operasi
a. Pastikan Umpan Nut silo merata dan sesuai dengan throughput agar effesiensi pemecahan yang tinggi dapat dipertahankan.
b. Periksa Cracked Mixture setiap Ripple Mill untuk mengetahui Broken Nut, Broken Kernel dan Uncracked Nut. Jika diluar standar harus segera dilaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas dan effesiensi riplle mill ≥ 96 % dan Broken kernel <15 %.
c. Shell Cyclone harus tetap diamati untuk memastikan umpan yang masuk merata dan tidak terjadi kejutan. Dan juga pemisahan shell dan kernel efektif serta shell keluar stabil. Target kehilangan inti di dry shell kurang dari 3 % dan dumper harus distel jika kehilangan tinggi.
4. Menghentikan
a. Pertama kali yang harus dilakukan untuk menghentikan bagian ini adalah menghentikan umpan Nut silo dan membiarkan seluruh mesin beroperasi hingga tidak ada lagi Nut yang melewati Ripple Mill.
b. Jika sudah tidak ada lagi Nut yang mengalir, hentikan seluruh mesin dengan langkah yang berlawanan dengan seluruh prosedur menjalankan.
c. Pastikan seluruh isolator listrik dalam posisi mati.
5. Panduan Untuk Pengendalian Mutu
a. Effisiensi pemecahan hanya dapat diperoleh melalui pengawasan yang tetap dan pendekatan yang bijak terhadap operasi.dan pastikan effesiensi pemecahan ripple mill ≥ 96% dan broken kernel < 15 %.
b. Sampel dari Riplle Mill harus dianalisa secara Kontinous untuk memastikan Broken Kernell pada tingkat yang minimum dan juga Broken Nut dan Whole Nut.
c. Kehilangan Inti pada Shell Cyclone harus serendah mungkin, hanya Broken kernel saja yang boleh terlihat, bukan whole kernel. Persentase Broken Kernel harus kurang dari 3 %.
d. Cracked Mixture ke Claybath Separator relative harus bersih dari Fibre dan kotoran. Hal ini bisa dicapai jika sistem Pneumatik bekerja dengan tepat.
6. Pencatatan
a. Catat jam mulai dan berhenti operasi.
b. Catat beban pada Fan ( Shell Cyclone ).
7. Tugas – Tugas Operator
a. Tetap memelihara kebersihan mesin dan lingkungan kerja.
b. Mengoperasikan semua mesin dengan benar dan efesien.
c. Memastikan dipertahankannya Throughput yang benar sesuai dengan tingkat Nut didalam Nut Silo.
d. Memastikan mutu yang optimum dipertahankan.
e. Memastikan kehilangan inti minimum dan tetap dipertahankan.
f. Tetap melakukan pencatatan.
g. Memberitahukan kepada Assisten/Mandor yang bertugas setiap terjadi kerusakan atau kegagalan mesin.
h. Melaksanakan prosedur operasi sebagaimana yang digariskan oleh pimpinan seperti prosedur menjalankan dan menghentikan atau tugas tertentu yang diberikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
C. Nut Silo
Peralatan dibagian ini meliputi :
Wet Nut Elevator, Nut Silo, Shaking Grate dari Nut Silo telah beroperasi sebelumnya.
1. Pemeriksaan Pendahuluan
a. Periksa semua Chute apakah telah bersih, periksa Chute keluar Nut Polishing Drum dan buang setiap besi atau benda asing lainnya.
b. Periksa tingkat ( level ) Nut didalam nut silo.
2. Panduan Untuk Pengendalian Mutu
a. Nut yang keluar dari Nut Polishing drum harus bersih dari sisa - sisa fibre pada permukaanya.
b. Kadar air nut sebelum masuk Nut Silo biasanya sekitar 21 - 22 %.
c. Nut yang keluar dari Nut silo harus mempunyai kadar air sekitar 12 % atau didalam selang 12 - 13 %.
3. Pencatatan
a. Catat jam mulai dan berhenti
4. Tugas-tugas Operator
a. Tetap memelihara mesin dan lingkungan kerja.
b. Mengoperasikan mesin dengan benar dan efisien.
c. Memastikan Throughput dipertahankan
d. Memastikan mutu dan efisiensi Optimum dipertahankan.
e. Tetap mencatat operasi mesin seperti waktu jalan/berhenti, alasannya tidak beroperasi.
f. Menginformasikan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi kerusakan atau ketidaknormalan fungsi mesin.
g. Melaksanakan Prosedur operasi seperti yang digariskan pimpinan seperti prosedur menghidupkan dan menghentikan atau tugas khusus yang diberikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
D. Kernel Silo
1. Pemeliharaan Pendahuluan
a. Periksa dan bersihkan fan heater kernel silo serta kisi - kisinya dan juga kawat saringan dibagian hisap.
b. Periksa Vibrating Grate dan pastikan tidak ada penyumbatan oleh fibre.
c. Periksa dan bersihkan fan untuk Dry kernel Transport serta Cyclone nya.
2. Pemanasan
a. Buka katup By-pass dan steam trap.
b. Buka katup uap untuk heater.
c. Setelah 2 menit tutup katup By-pass dan periksa apakah steam trap beroperasi dengan baik.
3. Menjalankan
a. Jalankan fan untuk kernel silo jika proses telah stabil untuk penghemat beban.
b. Jalankan Dry kernel Transport fan.
c. Jalankan Dry kernel conveyor
d. Jalankan Vibrating Grate.
4. Operasi
a. Pengeringan kernel harus berjalan kontinyu tanpa masalah.
b. Vibrating Grate dikernel silo harus disetel sesuai dengan Throughput yang dikehendaki secara kontinyu. Pengeluaran dari kernel silo harus dikontrol dengan cermat dan merata.
5. Menghentikan
a. Prosedur untuk menghentikan dilakukan sebagai kebalikan dari prosedur untuk menjalankan.
b. Seluruh katup uap harus tertutup.
c. Seluruh Isolator harus dalam posisi mati.
6. Panduan Untuk Pengendalian Mutu
a. Temperatur kernel silo harus dipertahankan( sekitar 400 C Bagian atas, 650C bagian tengah dan 800 C bagian bawah ). Setiap kenaikan atau penurunan temperatur harus diselidiki dan segera dikoreksi, jika tidak pengeringan akan tidak efektif.
b. Air dan Fibre tidak boleh masuk kedalam kernel silo.
c. Pengeringan kernel harus dimonitor secara cermat, kadar air kernel harus sekitar 7 %.
d. Pengendalian mutu kenel harus terus dimonitor. Kadar kotoran harus tidak lebih dari 7 % dan kadar air tidak boleh melebihi 7 %.
7. Pencatatan
a. Temperatur pada kernel silo harus dicatat secara teratur.
b. Beban ( Ampere ) fan harus di catat.
8. Tugas-tugas Operator
a. Tetap memelihara kebersihan lingkungan kerja dan mesin yang dioperasikan.
b. Mengoperasikan mesin secara benar.
c. Memastikan Throughput yang diinginkan dapat dipertahankan.
d. Memastikan kualitas dan perameter pengeringan cocok.
e. Tetap mencatat operasi mesin, waktu menjalankan dan temperatur kernel silo dsb.
f. Memberitahukan kepada Assistan/Mandor yang bertugas jika ada gangguan atau kerusakan mesin.
g. Melaksanakan setiap prosedur operasi yang telah digariskan oleh pimpinan seperti prosedur menjalankan dan menghentikan atau instruksi yang diberikan oleh Assistan/Mandor yang bertugas.
h. Karyawan bagian stasiun Pengolahan Nut harus tetap berada di stasiun Press pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Pengolahan Nut harus dijaga.
Selasa, 21 September 2010
BAB X STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN DEPERICARPER
Garis panduan dan prosedur operasi station Depericarper
1. Menghidupkan
Station di bawah ini harus dijalankan sebelum press beroperasi :
a. Jalankan Fuel Conveyor di station boiler
b. Jalankan Conveyor dibawah Fibre cyclone ( Fibred & Shell Conveyor )
c. Jalankan Fibre cyclone
d. Jalankan Nut cyclone & Wet Nut Conveyor.
e. Jalankan Nut Polishing Drum
f. Jalankan Cake Breaker Conveyor.
2. Operasi
a. Memastikan hanya biji( Nut ) yang bersih yang keluar dari Nut Polishing Drum jika terdapat sabut( Fibre ) & Nut yang tidak bersih menunjukkan masalah pada bagian awal dari proses ini.
b. Memastikan Semua Fan Di stasiun ini beroperasi dengan kecepatan normal dan tidak ada getaran.
c. Memastikan seluruh roda penyangga( Support Roller ) Nut polishing drum berputar dengan lancar.
d. Pemasukkan( Throughput ) harus dipertahankan pada tingkat maksimum untuk tetap menjaga tingkat kehilangan( Losses ) inti pada tingkat yang terendah.
e. Memastikan Cake Breaker Conveyor sudutnya tidak berubah agar waktu fibre di dalam conveyor maksimum.
f. Setel Damper Fibre Cyclone bila proses beroperasi kurang dari 2 unit. Begitu juga sebaliknya.
3. Penghentian
a. Seluruh mesin distasiun ini harus tetap beroperasi hingga fibre sudah tidak ada lagi yang di hantar ke stasiun boiler dan tidak ada Nut yang dikeluarkan dari Nut Polishing Drum.
b. Prosedur penghentian merupakan kebalikan dari prosedur menghidupkan.
c. Seluruh Isolator mesin harus dalam posisi mati( Of f ).
4. Garis Panduan untuk pengendalian mutu
Fibre di Platform boiler harus kering dan menggandung inti( Kernel ) < 2 %.
1. Menghidupkan
Station di bawah ini harus dijalankan sebelum press beroperasi :
a. Jalankan Fuel Conveyor di station boiler
b. Jalankan Conveyor dibawah Fibre cyclone ( Fibred & Shell Conveyor )
c. Jalankan Fibre cyclone
d. Jalankan Nut cyclone & Wet Nut Conveyor.
e. Jalankan Nut Polishing Drum
f. Jalankan Cake Breaker Conveyor.
2. Operasi
a. Memastikan hanya biji( Nut ) yang bersih yang keluar dari Nut Polishing Drum jika terdapat sabut( Fibre ) & Nut yang tidak bersih menunjukkan masalah pada bagian awal dari proses ini.
b. Memastikan Semua Fan Di stasiun ini beroperasi dengan kecepatan normal dan tidak ada getaran.
c. Memastikan seluruh roda penyangga( Support Roller ) Nut polishing drum berputar dengan lancar.
d. Pemasukkan( Throughput ) harus dipertahankan pada tingkat maksimum untuk tetap menjaga tingkat kehilangan( Losses ) inti pada tingkat yang terendah.
e. Memastikan Cake Breaker Conveyor sudutnya tidak berubah agar waktu fibre di dalam conveyor maksimum.
f. Setel Damper Fibre Cyclone bila proses beroperasi kurang dari 2 unit. Begitu juga sebaliknya.
3. Penghentian
a. Seluruh mesin distasiun ini harus tetap beroperasi hingga fibre sudah tidak ada lagi yang di hantar ke stasiun boiler dan tidak ada Nut yang dikeluarkan dari Nut Polishing Drum.
b. Prosedur penghentian merupakan kebalikan dari prosedur menghidupkan.
c. Seluruh Isolator mesin harus dalam posisi mati( Of f ).
4. Garis Panduan untuk pengendalian mutu
Fibre di Platform boiler harus kering dan menggandung inti( Kernel ) < 2 %.
BAB IX STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN PRESSING
Garis panduan dan Prosedur Operasi Stasiun Press
Stasiun ini mencakup peralatan sebagai berikut :
Digester, Press, Crude Oil gutter , Sand Trap Tank, Vibrating Screen, Crude Oil Pump, Digester Feed Conveyor, Fruit Return Conveyor.
1. Pemeriksaan Pendahuluan
Lakukan inspeksi secara visual terhadap electromotor, Gear Box dan kopling apakah dalam keadaan layak operasi level oli di Gear Box Cukup, aligment kopling tepat, Elektromotor tidak bergetar. Dan juga inspeksi visual As utama, Kopling, bagian dalam digester apakah sudah kosong dan tidak ada benda asing, catat kondisi pisau - pisau pengaduk digester dan laporkan jika sudah aus untuk ditindak - lanjuti. Begitu juga dengan kondisi press dan press cake serta bushing As harus dalam kondisi baik.
2. Persiapan Untuk Pengoperasian – Pemanasan
a. Periode Pemanasan sangat penting dilakukan di stasiun press ini agar tingkat temperature untuk proses dapat dicapai secepat mungkin setelah produksi di mulai.
b. Buka seluruh kran By-pass pembuangan kondensat( drain ) Digester, Kemudian kran uap dan biarkan sekitar 2 menit sampai air habis dan steam yang keluar. Tutup kran By-pass dan periksa steam trap apakah dalam kondisi normal.
c. Digester dengan steam yang langsung / injeksi maka kran uap dibuka setelah digester berisi sekitar 2/3.
d. Buka uap untuk Crude Oil Tank di bawah Vibrating Screen.
3. Menghidupkan
Sebelum Press mulai dijalankan, stasiun Depericarper dan Cake Breaker Conveyor sudah harus dijalankan.
a. Hidupkan satu persatu digester pada setiap jalur. Hal ini bertujuan agar pemakaian arus listrik tidak secara mendadak dan Generator mampu manghasilkan daya sesuai dengan kebutuhan dan tegangan stabil.
b. Hidupkan Conveyor Feed Digester.
c. Hidupkan Fruit Return Conveyor, setelah Fruit elevator di jalankan.
d. Crude Oil Pump bekerja dengan memeriksa pelampung otomatis dan tidak secara by-pass.
e. Hidupkan Vibrating Screen.
f. Periksa Katup Oil Gutter yang menuju Vibrating Screen apakah sudah terbuka.
g. Mulai pengisian ke digester dan pastikan pengadukan harus lumat ( + 15 Menit )
h. Jika Digester telah penuh, hidupkan Press.
i. Setelah Press beroperasi, pintu keluar Digester harus terbuka penuh.
j. Kendalikan Cone untuk Hidrolik press secara manual hingga kondisi ampas (press cake ) kering dan keluar merata. Tujuan hal ini untuk mencegah ampas yang keluar dari press basah atau terlalu kering yang dapat mengakibatkan kemacetan pada Press. Biasanya tekanan Hidrolik press sekitar 50 s/d 60 bar dan beban motor dipertahankan sekitar 40 Amp. Buah yang telah di Sterilisasi pada malam sebelumnya biasanya fibernya lebih kering sehingga harus pada posisi manual dan setelah buah segar pada posisi otomatis.
k. Pindahkan Hidrolik Cone dari posisi manual menjadi otomatis.
l. Atur pemasukan air panas ke Press Cage malalui kran Digester harus dijalankan secara berurutan agar sabut yang keluar ke stasiun Boiler secepat mungkin dan untuk pengendalian beban awal listrik dan konsumsi uap. Hal ini tidak perlu dilakukan jika sistem pengenceran nol ( tidak ada pengenceran )
m. Pengisian dan pengoperasian Digester berikutnya setelah selesai pengisian dan pengoperasian satu Digester, begitu seterusnya.
4. Selama Operasi
a. Pastikan Digester selalu penuh( ¾ ) dan minyak cukup mengalir dari Digester.
Hal ini sangat penting, jika digester tidak dapat dipertahankan penuh ( ¾ ) karena ada halangan, maka satu unit digester / press harus di matikan.
1 ). Digester / press tidak boleh beroperasi dalam keadaan tidak penuh( ¾ ) beban Operasi harus berkisar 25 - 35 Amp, Jika keluar dari jangkauan ini harus segera dilaporkan untuk suatu tindakan.
2 ). Kurangnya minyak yang keluar dari digester menunjukkan proses digester atau Sterilizer kurang baik atau temperatur yang kurang.
3 ). Ketinggian buah di Digester menentukan tekanan buah didalam Digester sebagai akibat dari beratnya dan juga pergesekan dengan pisau – pisau pengaduk. Jika Digester tidak dipertahankan penuh( ¾ ), waktu pengadukan menjadi pendek dan tekanan dalam buah berkurang, kombinasi dua faktor ini mengakibatkan proses di Digester tidak baik dan kehilangan minyak( Oil Losses ) yang lebih tinggi.
b. Memastikan pemasukan buah yang telah dilumatkan ke dalam press secara merata.
c. Inspeksi dan atur penambahan air panas dengan melihat Crude Oil di atas Screen, hal ini dilakukan jika Sistem pengenceran dilakukan. Jika tidak ada pengenceran ( sistem pengenceran Nol ) air tidak perlu ditambahkan.
d. Dengan seksama amati keluaran ampas ( Press cake ) dari Cone Press
e. Periksa sistem penggerak jika timbul suara ( Getaran ) yang aneh.
f. Periksa mutu ampas ( Press Cake ) secara teratur untuk memastikan tidak terlalu basah dan tidak terlalu banyak Nut pecah ( Broken Nut ). Target kehilangan minyak diampas dalam basis kering ( OLDB ) adalah < 8,5 % dan basis basah < 5 % (wet basis), sedangkan rasio antara broken Nut dan Total Nut adalah < 15 %.
g. Temperatur didalam Digester harus dipertahankan 800 C - 900 C dengan cara membuka kran uap sesuai dengan keperluan.
h. Beban electromotor press harus tidak boleh melebihi 45 Amp( dipertahankan 40 Amp dalam kondisi normal )
i. Penyamplingan ampas press dengan kertas sampling visual( warna putih ) setiap 1 jam sekali oleh sample boy/operator press untuk mengetahui losses secara visual.
5. Pencatatan
Pencatan yang harus dilakukan :
a. Waktu mulai dan berhenti setiap press sepanjang hari.
b. Pembacaan ampere dari Digester dan Press setiap jam dengan kondisi kerja pada beban yang penuh.
c. Temperature di dalam Digester.
d. Tekanan Hidrolik pada Press
6. Penghentian
a. Lanjutkan Press tetap beroperasi hingga buah yang masuk ke Press habis, Kemudian tutup pintu Digester dan hentikan.
b. Tarik kembali Cone dan buang tekanan serta hentikan pompa Hidrolik.
c. Matikan uap ke dalam Digester.
d. Hentikan Press, tetapi tetap lanjutkan penambahan air panas di Press untuk mencuci semua sisa minyak( Crude Oil ) dari Press, Oil Gutter, sand Trap Tank dan Crude oil Tank.( Pastikan fibre Press cake harus kosong pada screw Press )
e. Crude Oil Pump tetap beroperasi hingga Compartment di Crude Oil Tank kosong, kemudian matikan kran air panas, Matikan semua Isolator Listrik.
7. Garis Panduan Untuk Pengendalian Mutu
a. Pertahankan Digester penuh( ¾ ) sepanjang waktu operasi.
b. Pengeluaran minyak dari Digester harus lancar.
c. Pertahankan temperature didalam Digester sekitar 800 C - 900 C.
d. Pisau - Pisau pengaduk( Stirring Arms ) harus dalam kondisi bagus dan kerenggangan antara ujung pisau dengan dinding harus tidak lebih dari 35 mm.
e. Kehilangan minyak di sabut ( Fibre ) tidak boleh melebihi 8.5% dalam basis kering ( OLDB ). dan < 5 % basis basah ( wet basis / OLDB )
f. Persentase Nut pecah ( Broken Nut ) terhadap total Nut di dalam ampas ( Press cake ) tidak melebihi 15 %.
g. Vibrating Screen harus dalam kodisi bagus untuk :
1 ). Mencegah kelebihan bahan yang terbawa ke Digester, Karena akan mempengaruhi proses Digester, Press dan juga kapasitas olah( Througput).
2 ). Mencegah kegagalan Operasi di Stasiun klarifikasi.
8. Tugas – tugas Operator
a. Memelihara kebersihan mesin dan tempat kerja.
b. Mengoperasikan mesin dengan aman dan benar.
c. Memastikan kapasitas olah dipertahankan.
d. Mencatat operasi mesin seperti, waktu mulai/berhenti, sebab kerusakan, pembacaan ampere electromotor dsb.
e. Menginformasikan kepada Assisten/Mandor yang sedang bertugas jika terjadi kelainan mesin atau kerusakan.
f. Melaksanakan prosedur operasi yang digariskan oleh pimpinan seperti prosedur penghidupan atau penghentian atau melaksanakan intruksi dari Assisten/Mandor yang sedang bertugas.
g. Mempertahankan digester tetap penuh dan drainase minyak secara maksimum.
h. Mempertahankan kualitas ampas ( Press Cake).
i. Sand trap tank harus di drain setiap hari( pagi ) walaupun proses lanjut olah.
j. Karyawan bagian stasiun Press harus tetap berada di stasiun Press pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi
k. Keutuhan peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Press harus dijaga.
Stasiun ini mencakup peralatan sebagai berikut :
Digester, Press, Crude Oil gutter , Sand Trap Tank, Vibrating Screen, Crude Oil Pump, Digester Feed Conveyor, Fruit Return Conveyor.
1. Pemeriksaan Pendahuluan
Lakukan inspeksi secara visual terhadap electromotor, Gear Box dan kopling apakah dalam keadaan layak operasi level oli di Gear Box Cukup, aligment kopling tepat, Elektromotor tidak bergetar. Dan juga inspeksi visual As utama, Kopling, bagian dalam digester apakah sudah kosong dan tidak ada benda asing, catat kondisi pisau - pisau pengaduk digester dan laporkan jika sudah aus untuk ditindak - lanjuti. Begitu juga dengan kondisi press dan press cake serta bushing As harus dalam kondisi baik.
2. Persiapan Untuk Pengoperasian – Pemanasan
a. Periode Pemanasan sangat penting dilakukan di stasiun press ini agar tingkat temperature untuk proses dapat dicapai secepat mungkin setelah produksi di mulai.
b. Buka seluruh kran By-pass pembuangan kondensat( drain ) Digester, Kemudian kran uap dan biarkan sekitar 2 menit sampai air habis dan steam yang keluar. Tutup kran By-pass dan periksa steam trap apakah dalam kondisi normal.
c. Digester dengan steam yang langsung / injeksi maka kran uap dibuka setelah digester berisi sekitar 2/3.
d. Buka uap untuk Crude Oil Tank di bawah Vibrating Screen.
3. Menghidupkan
Sebelum Press mulai dijalankan, stasiun Depericarper dan Cake Breaker Conveyor sudah harus dijalankan.
a. Hidupkan satu persatu digester pada setiap jalur. Hal ini bertujuan agar pemakaian arus listrik tidak secara mendadak dan Generator mampu manghasilkan daya sesuai dengan kebutuhan dan tegangan stabil.
b. Hidupkan Conveyor Feed Digester.
c. Hidupkan Fruit Return Conveyor, setelah Fruit elevator di jalankan.
d. Crude Oil Pump bekerja dengan memeriksa pelampung otomatis dan tidak secara by-pass.
e. Hidupkan Vibrating Screen.
f. Periksa Katup Oil Gutter yang menuju Vibrating Screen apakah sudah terbuka.
g. Mulai pengisian ke digester dan pastikan pengadukan harus lumat ( + 15 Menit )
h. Jika Digester telah penuh, hidupkan Press.
i. Setelah Press beroperasi, pintu keluar Digester harus terbuka penuh.
j. Kendalikan Cone untuk Hidrolik press secara manual hingga kondisi ampas (press cake ) kering dan keluar merata. Tujuan hal ini untuk mencegah ampas yang keluar dari press basah atau terlalu kering yang dapat mengakibatkan kemacetan pada Press. Biasanya tekanan Hidrolik press sekitar 50 s/d 60 bar dan beban motor dipertahankan sekitar 40 Amp. Buah yang telah di Sterilisasi pada malam sebelumnya biasanya fibernya lebih kering sehingga harus pada posisi manual dan setelah buah segar pada posisi otomatis.
k. Pindahkan Hidrolik Cone dari posisi manual menjadi otomatis.
l. Atur pemasukan air panas ke Press Cage malalui kran Digester harus dijalankan secara berurutan agar sabut yang keluar ke stasiun Boiler secepat mungkin dan untuk pengendalian beban awal listrik dan konsumsi uap. Hal ini tidak perlu dilakukan jika sistem pengenceran nol ( tidak ada pengenceran )
m. Pengisian dan pengoperasian Digester berikutnya setelah selesai pengisian dan pengoperasian satu Digester, begitu seterusnya.
4. Selama Operasi
a. Pastikan Digester selalu penuh( ¾ ) dan minyak cukup mengalir dari Digester.
Hal ini sangat penting, jika digester tidak dapat dipertahankan penuh ( ¾ ) karena ada halangan, maka satu unit digester / press harus di matikan.
1 ). Digester / press tidak boleh beroperasi dalam keadaan tidak penuh( ¾ ) beban Operasi harus berkisar 25 - 35 Amp, Jika keluar dari jangkauan ini harus segera dilaporkan untuk suatu tindakan.
2 ). Kurangnya minyak yang keluar dari digester menunjukkan proses digester atau Sterilizer kurang baik atau temperatur yang kurang.
3 ). Ketinggian buah di Digester menentukan tekanan buah didalam Digester sebagai akibat dari beratnya dan juga pergesekan dengan pisau – pisau pengaduk. Jika Digester tidak dipertahankan penuh( ¾ ), waktu pengadukan menjadi pendek dan tekanan dalam buah berkurang, kombinasi dua faktor ini mengakibatkan proses di Digester tidak baik dan kehilangan minyak( Oil Losses ) yang lebih tinggi.
b. Memastikan pemasukan buah yang telah dilumatkan ke dalam press secara merata.
c. Inspeksi dan atur penambahan air panas dengan melihat Crude Oil di atas Screen, hal ini dilakukan jika Sistem pengenceran dilakukan. Jika tidak ada pengenceran ( sistem pengenceran Nol ) air tidak perlu ditambahkan.
d. Dengan seksama amati keluaran ampas ( Press cake ) dari Cone Press
e. Periksa sistem penggerak jika timbul suara ( Getaran ) yang aneh.
f. Periksa mutu ampas ( Press Cake ) secara teratur untuk memastikan tidak terlalu basah dan tidak terlalu banyak Nut pecah ( Broken Nut ). Target kehilangan minyak diampas dalam basis kering ( OLDB ) adalah < 8,5 % dan basis basah < 5 % (wet basis), sedangkan rasio antara broken Nut dan Total Nut adalah < 15 %.
g. Temperatur didalam Digester harus dipertahankan 800 C - 900 C dengan cara membuka kran uap sesuai dengan keperluan.
h. Beban electromotor press harus tidak boleh melebihi 45 Amp( dipertahankan 40 Amp dalam kondisi normal )
i. Penyamplingan ampas press dengan kertas sampling visual( warna putih ) setiap 1 jam sekali oleh sample boy/operator press untuk mengetahui losses secara visual.
5. Pencatatan
Pencatan yang harus dilakukan :
a. Waktu mulai dan berhenti setiap press sepanjang hari.
b. Pembacaan ampere dari Digester dan Press setiap jam dengan kondisi kerja pada beban yang penuh.
c. Temperature di dalam Digester.
d. Tekanan Hidrolik pada Press
6. Penghentian
a. Lanjutkan Press tetap beroperasi hingga buah yang masuk ke Press habis, Kemudian tutup pintu Digester dan hentikan.
b. Tarik kembali Cone dan buang tekanan serta hentikan pompa Hidrolik.
c. Matikan uap ke dalam Digester.
d. Hentikan Press, tetapi tetap lanjutkan penambahan air panas di Press untuk mencuci semua sisa minyak( Crude Oil ) dari Press, Oil Gutter, sand Trap Tank dan Crude oil Tank.( Pastikan fibre Press cake harus kosong pada screw Press )
e. Crude Oil Pump tetap beroperasi hingga Compartment di Crude Oil Tank kosong, kemudian matikan kran air panas, Matikan semua Isolator Listrik.
7. Garis Panduan Untuk Pengendalian Mutu
a. Pertahankan Digester penuh( ¾ ) sepanjang waktu operasi.
b. Pengeluaran minyak dari Digester harus lancar.
c. Pertahankan temperature didalam Digester sekitar 800 C - 900 C.
d. Pisau - Pisau pengaduk( Stirring Arms ) harus dalam kondisi bagus dan kerenggangan antara ujung pisau dengan dinding harus tidak lebih dari 35 mm.
e. Kehilangan minyak di sabut ( Fibre ) tidak boleh melebihi 8.5% dalam basis kering ( OLDB ). dan < 5 % basis basah ( wet basis / OLDB )
f. Persentase Nut pecah ( Broken Nut ) terhadap total Nut di dalam ampas ( Press cake ) tidak melebihi 15 %.
g. Vibrating Screen harus dalam kodisi bagus untuk :
1 ). Mencegah kelebihan bahan yang terbawa ke Digester, Karena akan mempengaruhi proses Digester, Press dan juga kapasitas olah( Througput).
2 ). Mencegah kegagalan Operasi di Stasiun klarifikasi.
8. Tugas – tugas Operator
a. Memelihara kebersihan mesin dan tempat kerja.
b. Mengoperasikan mesin dengan aman dan benar.
c. Memastikan kapasitas olah dipertahankan.
d. Mencatat operasi mesin seperti, waktu mulai/berhenti, sebab kerusakan, pembacaan ampere electromotor dsb.
e. Menginformasikan kepada Assisten/Mandor yang sedang bertugas jika terjadi kelainan mesin atau kerusakan.
f. Melaksanakan prosedur operasi yang digariskan oleh pimpinan seperti prosedur penghidupan atau penghentian atau melaksanakan intruksi dari Assisten/Mandor yang sedang bertugas.
g. Mempertahankan digester tetap penuh dan drainase minyak secara maksimum.
h. Mempertahankan kualitas ampas ( Press Cake).
i. Sand trap tank harus di drain setiap hari( pagi ) walaupun proses lanjut olah.
j. Karyawan bagian stasiun Press harus tetap berada di stasiun Press pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi
k. Keutuhan peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Press harus dijaga.
BAB VIII STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN INCINERATOR
Garis Panduan Dan Prosedur Operasi Untuk Incinerator
1. Pendahuluan :
Attendant harus melakukan pekerjaan dibawah ini minimal satu jam sebelum pengoperasian :
a. Periksa Chut pemasukan apakah bersih dari halangan.
b. Buka pintu – pintu dibagian bawah Incinerator
c. Korek seluruh abu pasir dari dasar Fire Grate sehingga terlihat bara api.
d. Memastikan api membakar dengan merata.
e. Keluarkan seluruh abu dari dalam Incinerator kepelataran agar dingin.
f. Tutup seluruh pintu hingga pengoperasian.
2. Pengoperasian :
a. Jika pabrik telah beroperasi, tandan kosong harus sudah dimasukkan kedalam Incinerator. Seluruh pintu aliran udara di bagian incinerator harus dibuka agar cukup udara untuk mempertahankan pembakaran dan api yang bagus untuk operasi sehari-hari.
b. Selama proses produksi, abu perlu dikorek dari Fire Grate dengan selang waktu yang teratur.
c. Pintu pada lantai bawah dibiarkan terbuka, selama pembakaran tidak besar. Jika terjadi pembakaran besar, Pintu – pintu harus ditutup dan aliran udara harus diatur agar menghasilkan pembakaran yang diperlukan. Asap yang dikeluarkan dari cerobong akan bewarna putih dan sangat besar jika kondisi pembakaran bagus.
d. Abu yang telah digaruk kepelataran masih mempunyai bahan – bahan sisa pembakaran yang harus dibuang. Abu harus disaring/diayak agar sisa tandan yang tidak terbakar dapat dipisahkan, setelah itu dimasukkan kedalam kantong dan seterusnya ditumpuk dengan rapi dan dicatat dalam stok.
e. Kantong – kantong harus tetap sekering mungkin dan jauh dari sinar matahari dan tempias dari air.
3. Penghentian :
a. Apabila tandan kosong telah dihentikan, seluruh pintu Incinerator harus ditutup untuk memastikan terjadi pembakaran yang lambat sepanjang malam.
b. Pada periode musim puncak, perlu dikendalikan jumlah udara dengan tujuan memastikan isi Incenerator terbakar habis sepanjang malam.
4. Tugas – Tugas Yang Harus Dilakukan :
a. Tetap menjaga kebersihan tempat kerja setiap waktu
b. Memastikan seluruh abu dikorek dari Fire Grate sepanjang produksi.
c. Memastikan api terbakar dengan benar dan udara dikendalikan
d. Membuang tangkai dan mencatat abu yang telah dikarungkan sesuai dengan Instruksi yang telah digariskan.
e. Memastikan seluruh Abu telah dikarungkan setiap akhir shift dan keadaan lingkungan sekitar bersih.
f. Melaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika ada ketidak normalan.
g. Melaksanakan setiap instruksi yang diberikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
h. Karyawan bagian stasiun Incenerator harus tetap berada di stasiun Incenerator pada saat jam kerja kecuali ada keperluan lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Incenerator harus dijaga.
1. Pendahuluan :
Attendant harus melakukan pekerjaan dibawah ini minimal satu jam sebelum pengoperasian :
a. Periksa Chut pemasukan apakah bersih dari halangan.
b. Buka pintu – pintu dibagian bawah Incinerator
c. Korek seluruh abu pasir dari dasar Fire Grate sehingga terlihat bara api.
d. Memastikan api membakar dengan merata.
e. Keluarkan seluruh abu dari dalam Incinerator kepelataran agar dingin.
f. Tutup seluruh pintu hingga pengoperasian.
2. Pengoperasian :
a. Jika pabrik telah beroperasi, tandan kosong harus sudah dimasukkan kedalam Incinerator. Seluruh pintu aliran udara di bagian incinerator harus dibuka agar cukup udara untuk mempertahankan pembakaran dan api yang bagus untuk operasi sehari-hari.
b. Selama proses produksi, abu perlu dikorek dari Fire Grate dengan selang waktu yang teratur.
c. Pintu pada lantai bawah dibiarkan terbuka, selama pembakaran tidak besar. Jika terjadi pembakaran besar, Pintu – pintu harus ditutup dan aliran udara harus diatur agar menghasilkan pembakaran yang diperlukan. Asap yang dikeluarkan dari cerobong akan bewarna putih dan sangat besar jika kondisi pembakaran bagus.
d. Abu yang telah digaruk kepelataran masih mempunyai bahan – bahan sisa pembakaran yang harus dibuang. Abu harus disaring/diayak agar sisa tandan yang tidak terbakar dapat dipisahkan, setelah itu dimasukkan kedalam kantong dan seterusnya ditumpuk dengan rapi dan dicatat dalam stok.
e. Kantong – kantong harus tetap sekering mungkin dan jauh dari sinar matahari dan tempias dari air.
3. Penghentian :
a. Apabila tandan kosong telah dihentikan, seluruh pintu Incinerator harus ditutup untuk memastikan terjadi pembakaran yang lambat sepanjang malam.
b. Pada periode musim puncak, perlu dikendalikan jumlah udara dengan tujuan memastikan isi Incenerator terbakar habis sepanjang malam.
4. Tugas – Tugas Yang Harus Dilakukan :
a. Tetap menjaga kebersihan tempat kerja setiap waktu
b. Memastikan seluruh abu dikorek dari Fire Grate sepanjang produksi.
c. Memastikan api terbakar dengan benar dan udara dikendalikan
d. Membuang tangkai dan mencatat abu yang telah dikarungkan sesuai dengan Instruksi yang telah digariskan.
e. Memastikan seluruh Abu telah dikarungkan setiap akhir shift dan keadaan lingkungan sekitar bersih.
f. Melaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika ada ketidak normalan.
g. Melaksanakan setiap instruksi yang diberikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
h. Karyawan bagian stasiun Incenerator harus tetap berada di stasiun Incenerator pada saat jam kerja kecuali ada keperluan lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Incenerator harus dijaga.
BAB VII STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN THRESHING
Garis Panduan Dan Prosedur Operasi Stasiun Threshing
1. Menjalankan
Menjalankan Stasiun Threshing sangat erat hubungannya dengan stasiun Digester dan Press. Oleh karena itu, jika digester telah dijalankan, prosedur yang harus dilakukan adalah :
a. Jalankan Inclained Empty Bucnh Conveyor
b. Jalankan Horizontal Empty Bunch Conveyor
c. Jalankan Top Fruit Conveyor, setelah digester feed conveyor dijalankan.
d. Jalankan Fruit Elevator
e. Jalankan cross bottom conveyor no 1 & 2
f. Jalankan Conveyor Under Threshing Drum
g. Jalankan Mesin Double Threshing
2. Menghentikan
a. Prosedur untuk menghentikan adalah berlawanan dengan prosedur menjalankan.
b. Sebelum Auto feeder dihentikan hopper harus dalam keadaan kosong dan bersih terhadap sisa brondolan.
Mesin Threshing masih tetap berjalan sampai tidak ada lagi tandan kosong yang di buang. Dalam keadaan berhenti, Semua isolator listrik harus dalam keadaan posisi mati ( Off )
c. Sisa - sisa brondolan di sudut – sudut Auto Feeder harus dikorek dan dibersihkan.
3. Selama Operasi
a. Pengisian tandan buah ke dalam Thresher harus secara merata. Hal ini untuk meminimalkan kelebihan beban pada thresher dan juga mengurangi kehilangan minyak melalui tandan kosong. Pada saat thresher kelebihan beban, sebagian besar jeruji mesin Stripper tersumbat oleh tandan, sehingga banyak yang keluar bersama tandan kosong. Dan juga pada saat itu, kontak antara tandan kosong dengan buah semakin sering yang mengakibatkan semakin banyak minyak yang diserap. Pada keadaan kelebihan beban, Efesiensi perontokkan juga berkurang dan kehilangan minyak banyak terjadi melalui buah yang tidak lepas dari tandannya.
b. Pemeriksaan visual yang tetap terhadap tandan kosong yang keluar dari Thresher harus terus dilakukan. Hal ini untuk mengetahui apakah stasiun Sterilizer dan Thresher telah berfungsi dengan baik dan benar dan juga kualitas TBS. Operator harus memeriksa setiap jam keadaan tandan yang tidak terontokan ( USB ) dan juga harus memastikan hal ini dilaksanakan dengan benar dan dicatat setiap hari.
c. Tandan yang tidak terontokan ( USB = Unstripped Bunch ) adalah setiap Tandan yang 5 ( lima ) atau lebih brondolan masih melekat ( tidak lepas ) dari tandannya setelah keluar dari thresher.
4. Garis Panduan dan Pengendalian Mutu
a. Pemasukkan tandan buah ke mesin Thresher harus secara taratur, terus menerus dan merata selama proses produksi, pengendalian Auto Feeder untuk menghasilkan kapasitas olah ( Troughput ) yang diinginkan.
b. Persentasi dari tandan yang tak terontokkan ( USB ) harus dipantau dan tidak melebihi 2.5 % dari total TBS yang diproses.
5. Pencatatan
Jumlah lori buah yang diangkat setiap jam harus dicatat oleh operator crane selama produksi, angka ini kemudian diserahkan kepada Assisten/Mandor pada akhir giliran ( Shift ).
6. Tugas – Tugas Operator :
a. Mempertahankan kebersihan peralatan dan mesin serta tempat kerja.
b. Mengoperasikan mesin dengan aman dan benar sepanjang waktu.
c. Memastikan aliran buah berjalan lancar melalui mesin/peralatan sepanjang waktu sesuai dengan kapasitas olah.
d. Menjaga semua catatan yang berhubungan dengan mesin/peralatan seperti waktu mulai dan berhenti, alasan mengapa terjadi keterlambatan, pengangkatan oleh crane dan sebagainya.
e. Melaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi kerusakan atau kelainan mesin.
f. Melaksanakan prosedur operasi sebagaimana telah digariskan oleh pimpinan atau instruksi yang diberikan oleh Assisten/Mandor.
g. Memastikan tandan yang tak terontokkan dihitung dan di catat.
h. Karyawan bagian stasiun Threshing harus tetap berada di stasiun Threshing pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Thresing harus dijaga.
1. Menjalankan
Menjalankan Stasiun Threshing sangat erat hubungannya dengan stasiun Digester dan Press. Oleh karena itu, jika digester telah dijalankan, prosedur yang harus dilakukan adalah :
a. Jalankan Inclained Empty Bucnh Conveyor
b. Jalankan Horizontal Empty Bunch Conveyor
c. Jalankan Top Fruit Conveyor, setelah digester feed conveyor dijalankan.
d. Jalankan Fruit Elevator
e. Jalankan cross bottom conveyor no 1 & 2
f. Jalankan Conveyor Under Threshing Drum
g. Jalankan Mesin Double Threshing
2. Menghentikan
a. Prosedur untuk menghentikan adalah berlawanan dengan prosedur menjalankan.
b. Sebelum Auto feeder dihentikan hopper harus dalam keadaan kosong dan bersih terhadap sisa brondolan.
Mesin Threshing masih tetap berjalan sampai tidak ada lagi tandan kosong yang di buang. Dalam keadaan berhenti, Semua isolator listrik harus dalam keadaan posisi mati ( Off )
c. Sisa - sisa brondolan di sudut – sudut Auto Feeder harus dikorek dan dibersihkan.
3. Selama Operasi
a. Pengisian tandan buah ke dalam Thresher harus secara merata. Hal ini untuk meminimalkan kelebihan beban pada thresher dan juga mengurangi kehilangan minyak melalui tandan kosong. Pada saat thresher kelebihan beban, sebagian besar jeruji mesin Stripper tersumbat oleh tandan, sehingga banyak yang keluar bersama tandan kosong. Dan juga pada saat itu, kontak antara tandan kosong dengan buah semakin sering yang mengakibatkan semakin banyak minyak yang diserap. Pada keadaan kelebihan beban, Efesiensi perontokkan juga berkurang dan kehilangan minyak banyak terjadi melalui buah yang tidak lepas dari tandannya.
b. Pemeriksaan visual yang tetap terhadap tandan kosong yang keluar dari Thresher harus terus dilakukan. Hal ini untuk mengetahui apakah stasiun Sterilizer dan Thresher telah berfungsi dengan baik dan benar dan juga kualitas TBS. Operator harus memeriksa setiap jam keadaan tandan yang tidak terontokan ( USB ) dan juga harus memastikan hal ini dilaksanakan dengan benar dan dicatat setiap hari.
c. Tandan yang tidak terontokan ( USB = Unstripped Bunch ) adalah setiap Tandan yang 5 ( lima ) atau lebih brondolan masih melekat ( tidak lepas ) dari tandannya setelah keluar dari thresher.
4. Garis Panduan dan Pengendalian Mutu
a. Pemasukkan tandan buah ke mesin Thresher harus secara taratur, terus menerus dan merata selama proses produksi, pengendalian Auto Feeder untuk menghasilkan kapasitas olah ( Troughput ) yang diinginkan.
b. Persentasi dari tandan yang tak terontokkan ( USB ) harus dipantau dan tidak melebihi 2.5 % dari total TBS yang diproses.
5. Pencatatan
Jumlah lori buah yang diangkat setiap jam harus dicatat oleh operator crane selama produksi, angka ini kemudian diserahkan kepada Assisten/Mandor pada akhir giliran ( Shift ).
6. Tugas – Tugas Operator :
a. Mempertahankan kebersihan peralatan dan mesin serta tempat kerja.
b. Mengoperasikan mesin dengan aman dan benar sepanjang waktu.
c. Memastikan aliran buah berjalan lancar melalui mesin/peralatan sepanjang waktu sesuai dengan kapasitas olah.
d. Menjaga semua catatan yang berhubungan dengan mesin/peralatan seperti waktu mulai dan berhenti, alasan mengapa terjadi keterlambatan, pengangkatan oleh crane dan sebagainya.
e. Melaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi kerusakan atau kelainan mesin.
f. Melaksanakan prosedur operasi sebagaimana telah digariskan oleh pimpinan atau instruksi yang diberikan oleh Assisten/Mandor.
g. Memastikan tandan yang tak terontokkan dihitung dan di catat.
h. Karyawan bagian stasiun Threshing harus tetap berada di stasiun Threshing pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Thresing harus dijaga.
BAB VI STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN HOISTING CRANE
Garis Panduan dan Prosedur Operasi Stasiun Hoisting Crane.
1. Cara kerja :
a. Persiapan untuk start harus melakukan pengecekan peralatan Hoisting Crane seperti, kondisi hoisting crane, kabel dan seling hoisting crane, auto feeder.
b. Mengangkat lorry ke auto feeder.
c. Kerja sama dengan petugas rantai ( Rail track )
d. Menunggu tanda dari petugas rantai ( Rail track ) untuk mengangkat lorry.
e. Melakukan pengangkatan agar rantai bisa tepat pada cincin lorry.
f. Menunggu tanda kedua dari petugas rantai ( Rail track ) untuk mengangkat lorry secara sempurna.
g. Mengangkat dengan sempurna dan meningkatkan kecepatan hingga lorry mencapai ketinggian maksimal.
h. Mengarahkan lorry ke auto feeder.
i. Menempatkan lorry pada posisi yang benar di atas auto feeder.
j. Membalikkan lorry secara perlahan-lahan hingga benar - benar terbalik.
k. Mengembalikan lorry pada posisi benar.
l. Mengembalikan lorry setelah lorry stabil.
m. Menempatkan lorry dengan tepat diatas rail
n. Menurunkan lorry kosong ke rail
o. Bekerja sama dengan petugas rantai ( Rail track )
p. Memperlambat lorry sebelum mencapai ketinggian badan petugas rantai( Rail track )
q. Membiarkan petugas rantai untuk memegang lorry agar lebih mudah untuk di stabilkan.
r. Menunggu tanda dari petugas rantai sebelum di letakan di atas rail
s. Menurunkan lorry secara sempurna
t. Memastikan bahwa rantai sudah di lepaskan dari cincin.
u. Melepaskan rantai untuk pengangkatan lorry berikutnya.
v. Menurunkan rantai apabila lorry sudah ditempatkan pada posisinya
w. Menjaga kebersihan pabrik pada waktu pabrik tidak prosess harus bekerja sama dengan petugas stasiun rantai( Rail track ) untuk membersihkan hoisting crane dan plat form.
x. Dilarang berdiri atau lalulalang di bawah hoisting crane/pada saat hoisting crane operasi karena hal ini sangat berbahaya.
2. Pencatatan :
a. Waktu menghidupkan dan menghentikan mesin
b. Pencatatan setiap lori yang diangkat ( diolah ) dalam lembar kerja ( log sheet ).
3. Tugas - Tugas Operator
a. Tetap memelihara kebersihan mesin-mesin di lingkungan kerja.
b. Memastikan pengoperasian Hoisting crane dengan benar.
c. Memastikan berapa lori yang harus terangkat setiap jamnya.
d. Tetap melakukan pencatatan seperti waktu menghidupkan dan menghentikan hoisting crane.
e. Memberitahukan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi gangguan atau kerusakan mesin.
f. Melaksanakan Standart Operasi Prosedur yang telah di gariskan oleh pimpinan seperti prosedur menghidupkan dan menghentikan dan juga Instruksi yang spesifik di berikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
g. Karyawan bagian stasiun Hoisting Crane harus tetap berada di stasiun Hoisting Crane pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi.
h. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Hoisting Crane harus dijaga.
1. Cara kerja :
a. Persiapan untuk start harus melakukan pengecekan peralatan Hoisting Crane seperti, kondisi hoisting crane, kabel dan seling hoisting crane, auto feeder.
b. Mengangkat lorry ke auto feeder.
c. Kerja sama dengan petugas rantai ( Rail track )
d. Menunggu tanda dari petugas rantai ( Rail track ) untuk mengangkat lorry.
e. Melakukan pengangkatan agar rantai bisa tepat pada cincin lorry.
f. Menunggu tanda kedua dari petugas rantai ( Rail track ) untuk mengangkat lorry secara sempurna.
g. Mengangkat dengan sempurna dan meningkatkan kecepatan hingga lorry mencapai ketinggian maksimal.
h. Mengarahkan lorry ke auto feeder.
i. Menempatkan lorry pada posisi yang benar di atas auto feeder.
j. Membalikkan lorry secara perlahan-lahan hingga benar - benar terbalik.
k. Mengembalikan lorry pada posisi benar.
l. Mengembalikan lorry setelah lorry stabil.
m. Menempatkan lorry dengan tepat diatas rail
n. Menurunkan lorry kosong ke rail
o. Bekerja sama dengan petugas rantai ( Rail track )
p. Memperlambat lorry sebelum mencapai ketinggian badan petugas rantai( Rail track )
q. Membiarkan petugas rantai untuk memegang lorry agar lebih mudah untuk di stabilkan.
r. Menunggu tanda dari petugas rantai sebelum di letakan di atas rail
s. Menurunkan lorry secara sempurna
t. Memastikan bahwa rantai sudah di lepaskan dari cincin.
u. Melepaskan rantai untuk pengangkatan lorry berikutnya.
v. Menurunkan rantai apabila lorry sudah ditempatkan pada posisinya
w. Menjaga kebersihan pabrik pada waktu pabrik tidak prosess harus bekerja sama dengan petugas stasiun rantai( Rail track ) untuk membersihkan hoisting crane dan plat form.
x. Dilarang berdiri atau lalulalang di bawah hoisting crane/pada saat hoisting crane operasi karena hal ini sangat berbahaya.
2. Pencatatan :
a. Waktu menghidupkan dan menghentikan mesin
b. Pencatatan setiap lori yang diangkat ( diolah ) dalam lembar kerja ( log sheet ).
3. Tugas - Tugas Operator
a. Tetap memelihara kebersihan mesin-mesin di lingkungan kerja.
b. Memastikan pengoperasian Hoisting crane dengan benar.
c. Memastikan berapa lori yang harus terangkat setiap jamnya.
d. Tetap melakukan pencatatan seperti waktu menghidupkan dan menghentikan hoisting crane.
e. Memberitahukan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi gangguan atau kerusakan mesin.
f. Melaksanakan Standart Operasi Prosedur yang telah di gariskan oleh pimpinan seperti prosedur menghidupkan dan menghentikan dan juga Instruksi yang spesifik di berikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
g. Karyawan bagian stasiun Hoisting Crane harus tetap berada di stasiun Hoisting Crane pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi.
h. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Hoisting Crane harus dijaga.
BAB V STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN STERILIZER
Garis Panduan dan Prosedur Operasi Sterilizer
1. Urutan (sequencing)
a. Pengoperasian Sterilizer dengan urutan yang benar sangat penting, dengan maksud pergerakan lori masuk dan keluar berjalan dengan mulus dan juga agar uap panas( steam ) digunakan secara eficien dan tidak terjadi pemakaian uap mendadak yang mana akan mengakibatkan ketel uap( Boiler ) mengalami kelebihan beban dan membuat siklus sterilisasi terganggu pada saat terjadi penggunaan uap yang rendah.
b. Urutan operasi seperti dibawah ini :
* Instalasi dengan 3 sterilizer : 1 : 3 : 2
Instalasi ini digunakan supaya adanya ruang yang lebih luas pada saat bekerja oleh operator rebusan dan operator rail track pada saat pengangkatan lori di sta Hoisting crane.
c. Saat pembukaan katup pemasukkan uap kedalam sterilizer sangat penting dan sedapat mungkin terkendali sesuai dengan siklus.
2. Pemasukkan Lori ( Charging )
a. Lori yang masuk kedalam sterilizer harus dimasukkan dengan menggunakan Capstan / Winch dan operator harus memastikan kaitan( hook ) antara lori satu sama lain telah dipasang dari setiap sterilizer memuat 12 lori.
b. Penyusunan lori yang berisi USB tidak boleh di tengah – tengah rebusan( bisa didepan atau dibelakang posisinya) karena dikhawatikan akan menyumbat pipa exhaust pada saat buang udara dan perebusan menjadi tidak maksimal.
c. Lori buah yang masak harus dikeluarkan terlebih dahulu dengan menggunakan capstan / winch, setelah itu baru lori yang belum masak dimasukkan.
Waktu pengosongan sterilizer harus kurang dari 15 menit( distribusi keluar masuk rebusan lebih cepat lebih baik ).
d. Setiap lori yang jatuh didepan sterilizer harus ditangani dengan hati – hati dan operator harus melaporkan hal ini kepada Assisten / mandor.
e. Lori harus dipastikan lurus supaya tidak nabrak sterilizer.
Apabila ada lori yang sudah lebar/rusak perlu perhatian khusus bagi op rebusan berkoordinasi dengan op rail track untuk memarkirkan lori tersebut supaya adanya perbaikan oleh pihak maintenance
3. Prosedur Operasi
a. Memasukkan
1). Sterilizer dalam keadaan kosong dan satu rebusan lori TBS telah siap untuk dimasukkan.
2). Tekanan uap di dalam sterilizer nol dan pintu dalam keadaan terbuka.
3). Katup pemasukkan uap ( Steam Inlet Valve ) dalam keadaan tertutup.
4). Katup pelepasan uap ( Steam Exhaust Valve ) dalam keadaan terbuka.
5). Katup condensate dan kran by pass dalam keadaan terbuka.
6). Kran pengaman pintu dalam keadaan terbuka.
7). Lori TBS dimasukkan ke dalam sterilizer.
b. Perebusan( Sterilizing )
1). Lori berisi TBS telah berada didalam sterilizer.
2). Tutup pintu sterilizer dan dikunci sampai indikator jatuh.
3). Tutup kran pengaman pintu.
4). Tutup katup pelepasan.
5). Buka secara perlahan-lahan katup pemasukkan uap.
6). Ketika tekanan uap mencapai 15 psi (± 1 kg/cm2 ) tutup katup kondensat. Hal ini jika dilakukan secara manual, apabila secara otomatis, maka pembukaan & penutupan katup sesuai dengan waktu yang diprogram.
7). Tekanan uap induk harus tetap pada 40 psi (± 2.7 kg / cm2 ). Apabila tekanan uap di rebusan tidak tercapai dan berkisar dibawah 2.7 kg / cm2 maka dilakukan penambahan masa tahan 10 menit sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
8). Masa perebusan biasanya sekitar 85 s/d 90 menit dan tergantung juga dari kualitas TBS. Apabila TBS restan perebusan berkisar antatra 70 s/d 75 menit.
9). System perebusan yang dipakai adalah Triple peak( tiga Puncak )
Tetapi apabila kondisi tekanan uap yang dihasilkan oleh boiler tidak mencukupi / kecenderungan steam kurang maka dipakai sistem Double peak( dua puncak ) supaya kapasitas olah( Througput) tercapai sehingga proses berjalan lancar dan maksimal.
c. Pengosongan ( Blow off )
1). TBS telah direbus selama kurang lebih 85 s.d 90 menit.
2). Tutup katup pemasukan uap.
3). Buka katup kondensat.
4). Buka katup pelepasan ( Exhaust Valve ) dan kosongkan uap.
5). Pada saat manometer menunjukkan nol, buka kran pengaman pintu.
6). Jika uap sudah tidak keluar dari kran pengaman pintu, buka pintu perlahan - lahan. Perhatian yang besar harus dilakukan pada saat pembukaan pintu dan operator harus berdiri dalam jarak yang aman untuk menghindari ayunan pintu. Jangan berdiri dibelakang pintu.
7). Tarik keluar lori yang berisi TBS yang telah direbus dengan Capstand/Winch.
4. Deaerasi dan pembuangan kondensat.
a. Deaerasi sangat penting dilakukan agar udara dingin dapat keluar dari sterilizer. Hal ini memungkinkan diperolehnya temperatur tertinggi pada saat tekanan sterilisasi.
b. Pelepasan kondensat sangat penting dengan tujuan :
1). Mencegah korosi yang berlebihan pada sterilizer dan lori
2). Mencegah banjir( Flooding ) didalam Sterilizer yang akan menyebabkan :
a). Menyebabkan rusaknya bearing / bushing roda lori.
b). Mempengaruhi perpindahan panas dan sterilisasi TBS pada bagian bawah lori .
c). Mencuci minyak pada permukaan buah sehingga meningkatkan kehilangan minyak( Oil losses).
d). Membahayakan operator pada saat membuka pintu.
5. Mulai proses pagi hari
a. TBS yang telah direbus harus tetap dibiarkan semalam di dalam sterilizer agar proses pagi hari dapat dimulai dan proses produksi dapat dipercepat sekitar 1 jam. Oleh karena diperlukan 3 rebusan yang di biarkan didalam sterilizer jika proses produksi telah selesai pada malam hari.
b. Prosedur yang dilakukan sebagai berikut :
1). Pada penghentian produksi, sterilisasi TBS yang akan dimalamkan harus tetap diselesaikan, setelah itu kondensat harus dibuang sesuai dengan prosedur normal. Pintu harus dibuka di longgarkan kuncinya dan dibiarkan dalam keadaan tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya kevakuman didalam sterilizer. Jika sterilizer dilengkapi Vaccum Breaker, pintu tidak perlu dilonggarkan.
2). Pagi hari, sterilizer harus ditutup dan buah harus diberi uap selam 20 menit sebelum dikeluarkan selama periode pemanasan, drain harus cukup terbuka untuk mengeluarkan kondensat.
3). Setelah buah dikeluarkan, pabrik siap untuk beroperasi. Program sterilisasi setiap hari harus dimulai dengan siklus pada sterilizer pertama.
6. Akhir siklus sterilisasi
a. Plat saringan( Strainer ) didepan Sterilizer harus digaruk dan dibersihkan, setiap brondolan dan tandan harus dibuang ketempat pembuangan / dimasukkan kedalam lori kosong.
b. Ring pintu harus diperiksa dan tetap bersih.
c. Brondolan / sampah harus di buang dari pintu dan kerangkanya.
7. Pembersihan Harian
a. Bersihkan kotak / parit di depan Sterilizer dari brondolan dan tandan.
b. Periksa dan bersihkan packing pintu dan landasannya.
c. Periksa dan bersihkan setiap Strainer dan pastikan pipa saluran kondensate tidak tersumbat.
8. Garis panduan Untuk Pengendalian Mutu Dan Kapasitas Olah :
a. Tekanan uap harus tetap sepanjang waktu.
b. Pembuangan udara dan kondensat yang benar harus dipertahankan.
c. Sterilizer harus dioperasikan sesuai dengan urutan.
d. Keterlambatan pengisian lori dan lori yang keluar dari rel seminimal mungkin.
e. Tandan yang tak terontokkan ( USB ) tidak melebihi 2.5 %.
9. Pencatatan :
a. Pencatatan sterilizer sangat penting untuk mengetahui kapasitas olah selama masa produksi. Waktu perebusan harus di catat di log sheet tulis yang telah disediakan dan disalin kelembar kerja pada akhir shift untuk diserahkan kepada Assisten/ Mandor.
b. Grafik Sterilizer harus tetap dalam kondisi baik dan pencatatan siklus harus tetap dipertahankan. Kertas grafik harus diganti sebelum proses produksi dimulai pada pagi hari.
10. Tugas – Tugas Operator :
a. Mengopersikan mesin secara aman dan benar.
b. Memastikan kapasitas olah( Troughput ) maksimal.
c. Menjaga peralatan pencatat( Pressure Recorder )
d. Menginformasikan kepada Assisten / mandor yang bertugas setiap ada kelainan mesin atau kerusakkan.
e. Melaksanakan prosedur operasi sesuai yang digariskan pimpinan seperti prosedur menjalankan dan menghentikan atau instruksi yang di berikan oleh Assisten / mandor yang bertugas.
f. Tetap menjaga kebersihan di stasiun sterilizer
g. Keutuhan Peralatan / perlengkapan kerja di Sta Sterillizer harus dijaga.
PERINGATAN : KESELAMATAN DI STASIUN STERILIZER HARUS DIPERHATIKAN SUNGGUH – SUNGGUH .
90 % KEJADIAN YANG FATAL DIPABRIK KELAPA SAWIT TERJADI PADA STASIUN STERILLIZER.
1. Urutan (sequencing)
a. Pengoperasian Sterilizer dengan urutan yang benar sangat penting, dengan maksud pergerakan lori masuk dan keluar berjalan dengan mulus dan juga agar uap panas( steam ) digunakan secara eficien dan tidak terjadi pemakaian uap mendadak yang mana akan mengakibatkan ketel uap( Boiler ) mengalami kelebihan beban dan membuat siklus sterilisasi terganggu pada saat terjadi penggunaan uap yang rendah.
b. Urutan operasi seperti dibawah ini :
* Instalasi dengan 3 sterilizer : 1 : 3 : 2
Instalasi ini digunakan supaya adanya ruang yang lebih luas pada saat bekerja oleh operator rebusan dan operator rail track pada saat pengangkatan lori di sta Hoisting crane.
c. Saat pembukaan katup pemasukkan uap kedalam sterilizer sangat penting dan sedapat mungkin terkendali sesuai dengan siklus.
2. Pemasukkan Lori ( Charging )
a. Lori yang masuk kedalam sterilizer harus dimasukkan dengan menggunakan Capstan / Winch dan operator harus memastikan kaitan( hook ) antara lori satu sama lain telah dipasang dari setiap sterilizer memuat 12 lori.
b. Penyusunan lori yang berisi USB tidak boleh di tengah – tengah rebusan( bisa didepan atau dibelakang posisinya) karena dikhawatikan akan menyumbat pipa exhaust pada saat buang udara dan perebusan menjadi tidak maksimal.
c. Lori buah yang masak harus dikeluarkan terlebih dahulu dengan menggunakan capstan / winch, setelah itu baru lori yang belum masak dimasukkan.
Waktu pengosongan sterilizer harus kurang dari 15 menit( distribusi keluar masuk rebusan lebih cepat lebih baik ).
d. Setiap lori yang jatuh didepan sterilizer harus ditangani dengan hati – hati dan operator harus melaporkan hal ini kepada Assisten / mandor.
e. Lori harus dipastikan lurus supaya tidak nabrak sterilizer.
Apabila ada lori yang sudah lebar/rusak perlu perhatian khusus bagi op rebusan berkoordinasi dengan op rail track untuk memarkirkan lori tersebut supaya adanya perbaikan oleh pihak maintenance
3. Prosedur Operasi
a. Memasukkan
1). Sterilizer dalam keadaan kosong dan satu rebusan lori TBS telah siap untuk dimasukkan.
2). Tekanan uap di dalam sterilizer nol dan pintu dalam keadaan terbuka.
3). Katup pemasukkan uap ( Steam Inlet Valve ) dalam keadaan tertutup.
4). Katup pelepasan uap ( Steam Exhaust Valve ) dalam keadaan terbuka.
5). Katup condensate dan kran by pass dalam keadaan terbuka.
6). Kran pengaman pintu dalam keadaan terbuka.
7). Lori TBS dimasukkan ke dalam sterilizer.
b. Perebusan( Sterilizing )
1). Lori berisi TBS telah berada didalam sterilizer.
2). Tutup pintu sterilizer dan dikunci sampai indikator jatuh.
3). Tutup kran pengaman pintu.
4). Tutup katup pelepasan.
5). Buka secara perlahan-lahan katup pemasukkan uap.
6). Ketika tekanan uap mencapai 15 psi (± 1 kg/cm2 ) tutup katup kondensat. Hal ini jika dilakukan secara manual, apabila secara otomatis, maka pembukaan & penutupan katup sesuai dengan waktu yang diprogram.
7). Tekanan uap induk harus tetap pada 40 psi (± 2.7 kg / cm2 ). Apabila tekanan uap di rebusan tidak tercapai dan berkisar dibawah 2.7 kg / cm2 maka dilakukan penambahan masa tahan 10 menit sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
8). Masa perebusan biasanya sekitar 85 s/d 90 menit dan tergantung juga dari kualitas TBS. Apabila TBS restan perebusan berkisar antatra 70 s/d 75 menit.
9). System perebusan yang dipakai adalah Triple peak( tiga Puncak )
Tetapi apabila kondisi tekanan uap yang dihasilkan oleh boiler tidak mencukupi / kecenderungan steam kurang maka dipakai sistem Double peak( dua puncak ) supaya kapasitas olah( Througput) tercapai sehingga proses berjalan lancar dan maksimal.
c. Pengosongan ( Blow off )
1). TBS telah direbus selama kurang lebih 85 s.d 90 menit.
2). Tutup katup pemasukan uap.
3). Buka katup kondensat.
4). Buka katup pelepasan ( Exhaust Valve ) dan kosongkan uap.
5). Pada saat manometer menunjukkan nol, buka kran pengaman pintu.
6). Jika uap sudah tidak keluar dari kran pengaman pintu, buka pintu perlahan - lahan. Perhatian yang besar harus dilakukan pada saat pembukaan pintu dan operator harus berdiri dalam jarak yang aman untuk menghindari ayunan pintu. Jangan berdiri dibelakang pintu.
7). Tarik keluar lori yang berisi TBS yang telah direbus dengan Capstand/Winch.
4. Deaerasi dan pembuangan kondensat.
a. Deaerasi sangat penting dilakukan agar udara dingin dapat keluar dari sterilizer. Hal ini memungkinkan diperolehnya temperatur tertinggi pada saat tekanan sterilisasi.
b. Pelepasan kondensat sangat penting dengan tujuan :
1). Mencegah korosi yang berlebihan pada sterilizer dan lori
2). Mencegah banjir( Flooding ) didalam Sterilizer yang akan menyebabkan :
a). Menyebabkan rusaknya bearing / bushing roda lori.
b). Mempengaruhi perpindahan panas dan sterilisasi TBS pada bagian bawah lori .
c). Mencuci minyak pada permukaan buah sehingga meningkatkan kehilangan minyak( Oil losses).
d). Membahayakan operator pada saat membuka pintu.
5. Mulai proses pagi hari
a. TBS yang telah direbus harus tetap dibiarkan semalam di dalam sterilizer agar proses pagi hari dapat dimulai dan proses produksi dapat dipercepat sekitar 1 jam. Oleh karena diperlukan 3 rebusan yang di biarkan didalam sterilizer jika proses produksi telah selesai pada malam hari.
b. Prosedur yang dilakukan sebagai berikut :
1). Pada penghentian produksi, sterilisasi TBS yang akan dimalamkan harus tetap diselesaikan, setelah itu kondensat harus dibuang sesuai dengan prosedur normal. Pintu harus dibuka di longgarkan kuncinya dan dibiarkan dalam keadaan tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya kevakuman didalam sterilizer. Jika sterilizer dilengkapi Vaccum Breaker, pintu tidak perlu dilonggarkan.
2). Pagi hari, sterilizer harus ditutup dan buah harus diberi uap selam 20 menit sebelum dikeluarkan selama periode pemanasan, drain harus cukup terbuka untuk mengeluarkan kondensat.
3). Setelah buah dikeluarkan, pabrik siap untuk beroperasi. Program sterilisasi setiap hari harus dimulai dengan siklus pada sterilizer pertama.
6. Akhir siklus sterilisasi
a. Plat saringan( Strainer ) didepan Sterilizer harus digaruk dan dibersihkan, setiap brondolan dan tandan harus dibuang ketempat pembuangan / dimasukkan kedalam lori kosong.
b. Ring pintu harus diperiksa dan tetap bersih.
c. Brondolan / sampah harus di buang dari pintu dan kerangkanya.
7. Pembersihan Harian
a. Bersihkan kotak / parit di depan Sterilizer dari brondolan dan tandan.
b. Periksa dan bersihkan packing pintu dan landasannya.
c. Periksa dan bersihkan setiap Strainer dan pastikan pipa saluran kondensate tidak tersumbat.
8. Garis panduan Untuk Pengendalian Mutu Dan Kapasitas Olah :
a. Tekanan uap harus tetap sepanjang waktu.
b. Pembuangan udara dan kondensat yang benar harus dipertahankan.
c. Sterilizer harus dioperasikan sesuai dengan urutan.
d. Keterlambatan pengisian lori dan lori yang keluar dari rel seminimal mungkin.
e. Tandan yang tak terontokkan ( USB ) tidak melebihi 2.5 %.
9. Pencatatan :
a. Pencatatan sterilizer sangat penting untuk mengetahui kapasitas olah selama masa produksi. Waktu perebusan harus di catat di log sheet tulis yang telah disediakan dan disalin kelembar kerja pada akhir shift untuk diserahkan kepada Assisten/ Mandor.
b. Grafik Sterilizer harus tetap dalam kondisi baik dan pencatatan siklus harus tetap dipertahankan. Kertas grafik harus diganti sebelum proses produksi dimulai pada pagi hari.
10. Tugas – Tugas Operator :
a. Mengopersikan mesin secara aman dan benar.
b. Memastikan kapasitas olah( Troughput ) maksimal.
c. Menjaga peralatan pencatat( Pressure Recorder )
d. Menginformasikan kepada Assisten / mandor yang bertugas setiap ada kelainan mesin atau kerusakkan.
e. Melaksanakan prosedur operasi sesuai yang digariskan pimpinan seperti prosedur menjalankan dan menghentikan atau instruksi yang di berikan oleh Assisten / mandor yang bertugas.
f. Tetap menjaga kebersihan di stasiun sterilizer
g. Keutuhan Peralatan / perlengkapan kerja di Sta Sterillizer harus dijaga.
PERINGATAN : KESELAMATAN DI STASIUN STERILIZER HARUS DIPERHATIKAN SUNGGUH – SUNGGUH .
90 % KEJADIAN YANG FATAL DIPABRIK KELAPA SAWIT TERJADI PADA STASIUN STERILLIZER.
Langganan:
Postingan (Atom)