Selasa, 21 September 2010

BAB VIII STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN INCINERATOR

Garis Panduan Dan Prosedur Operasi Untuk Incinerator

1. Pendahuluan :
Attendant harus melakukan pekerjaan dibawah ini minimal satu jam sebelum pengoperasian :
a. Periksa Chut pemasukan apakah bersih dari halangan.
b. Buka pintu – pintu dibagian bawah Incinerator
c. Korek seluruh abu pasir dari dasar Fire Grate sehingga terlihat bara api.
d. Memastikan api membakar dengan merata.
e. Keluarkan seluruh abu dari dalam Incinerator kepelataran agar dingin.
f. Tutup seluruh pintu hingga pengoperasian.

2. Pengoperasian :
a. Jika pabrik telah beroperasi, tandan kosong harus sudah dimasukkan kedalam Incinerator. Seluruh pintu aliran udara di bagian incinerator harus dibuka agar cukup udara untuk mempertahankan pembakaran dan api yang bagus untuk operasi sehari-hari.
b. Selama proses produksi, abu perlu dikorek dari Fire Grate dengan selang waktu yang teratur.
c. Pintu pada lantai bawah dibiarkan terbuka, selama pembakaran tidak besar. Jika terjadi pembakaran besar, Pintu – pintu harus ditutup dan aliran udara harus diatur agar menghasilkan pembakaran yang diperlukan. Asap yang dikeluarkan dari cerobong akan bewarna putih dan sangat besar jika kondisi pembakaran bagus.
d. Abu yang telah digaruk kepelataran masih mempunyai bahan – bahan sisa pembakaran yang harus dibuang. Abu harus disaring/diayak agar sisa tandan yang tidak terbakar dapat dipisahkan, setelah itu dimasukkan kedalam kantong dan seterusnya ditumpuk dengan rapi dan dicatat dalam stok.
e. Kantong – kantong harus tetap sekering mungkin dan jauh dari sinar matahari dan tempias dari air.

3. Penghentian :
a. Apabila tandan kosong telah dihentikan, seluruh pintu Incinerator harus ditutup untuk memastikan terjadi pembakaran yang lambat sepanjang malam.
b. Pada periode musim puncak, perlu dikendalikan jumlah udara dengan tujuan memastikan isi Incenerator terbakar habis sepanjang malam.

4. Tugas – Tugas Yang Harus Dilakukan :
a. Tetap menjaga kebersihan tempat kerja setiap waktu
b. Memastikan seluruh abu dikorek dari Fire Grate sepanjang produksi.
c. Memastikan api terbakar dengan benar dan udara dikendalikan
d. Membuang tangkai dan mencatat abu yang telah dikarungkan sesuai dengan Instruksi yang telah digariskan.
e. Memastikan seluruh Abu telah dikarungkan setiap akhir shift dan keadaan lingkungan sekitar bersih.
f. Melaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika ada ketidak normalan.
g. Melaksanakan setiap instruksi yang diberikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
h. Karyawan bagian stasiun Incenerator harus tetap berada di stasiun Incenerator pada saat jam kerja kecuali ada keperluan lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Incenerator harus dijaga.

BAB VII STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN THRESHING

Garis Panduan Dan Prosedur Operasi Stasiun Threshing

1. Menjalankan
Menjalankan Stasiun Threshing sangat erat hubungannya dengan stasiun Digester dan Press. Oleh karena itu, jika digester telah dijalankan, prosedur yang harus dilakukan adalah :
a. Jalankan Inclained Empty Bucnh Conveyor
b. Jalankan Horizontal Empty Bunch Conveyor
c. Jalankan Top Fruit Conveyor, setelah digester feed conveyor dijalankan.
d. Jalankan Fruit Elevator
e. Jalankan cross bottom conveyor no 1 & 2
f. Jalankan Conveyor Under Threshing Drum
g. Jalankan Mesin Double Threshing

2. Menghentikan
a. Prosedur untuk menghentikan adalah berlawanan dengan prosedur menjalankan.
b. Sebelum Auto feeder dihentikan hopper harus dalam keadaan kosong dan bersih terhadap sisa brondolan.
Mesin Threshing masih tetap berjalan sampai tidak ada lagi tandan kosong yang di buang. Dalam keadaan berhenti, Semua isolator listrik harus dalam keadaan posisi mati ( Off )
c. Sisa - sisa brondolan di sudut – sudut Auto Feeder harus dikorek dan dibersihkan.

3. Selama Operasi
a. Pengisian tandan buah ke dalam Thresher harus secara merata. Hal ini untuk meminimalkan kelebihan beban pada thresher dan juga mengurangi kehilangan minyak melalui tandan kosong. Pada saat thresher kelebihan beban, sebagian besar jeruji mesin Stripper tersumbat oleh tandan, sehingga banyak yang keluar bersama tandan kosong. Dan juga pada saat itu, kontak antara tandan kosong dengan buah semakin sering yang mengakibatkan semakin banyak minyak yang diserap. Pada keadaan kelebihan beban, Efesiensi perontokkan juga berkurang dan kehilangan minyak banyak terjadi melalui buah yang tidak lepas dari tandannya.
b. Pemeriksaan visual yang tetap terhadap tandan kosong yang keluar dari Thresher harus terus dilakukan. Hal ini untuk mengetahui apakah stasiun Sterilizer dan Thresher telah berfungsi dengan baik dan benar dan juga kualitas TBS. Operator harus memeriksa setiap jam keadaan tandan yang tidak terontokan ( USB ) dan juga harus memastikan hal ini dilaksanakan dengan benar dan dicatat setiap hari.
c. Tandan yang tidak terontokan ( USB = Unstripped Bunch ) adalah setiap Tandan yang 5 ( lima ) atau lebih brondolan masih melekat ( tidak lepas ) dari tandannya setelah keluar dari thresher.

4. Garis Panduan dan Pengendalian Mutu
a. Pemasukkan tandan buah ke mesin Thresher harus secara taratur, terus menerus dan merata selama proses produksi, pengendalian Auto Feeder untuk menghasilkan kapasitas olah ( Troughput ) yang diinginkan.
b. Persentasi dari tandan yang tak terontokkan ( USB ) harus dipantau dan tidak melebihi 2.5 % dari total TBS yang diproses.

5. Pencatatan
Jumlah lori buah yang diangkat setiap jam harus dicatat oleh operator crane selama produksi, angka ini kemudian diserahkan kepada Assisten/Mandor pada akhir giliran ( Shift ).

6. Tugas – Tugas Operator :
a. Mempertahankan kebersihan peralatan dan mesin serta tempat kerja.
b. Mengoperasikan mesin dengan aman dan benar sepanjang waktu.
c. Memastikan aliran buah berjalan lancar melalui mesin/peralatan sepanjang waktu sesuai dengan kapasitas olah.
d. Menjaga semua catatan yang berhubungan dengan mesin/peralatan seperti waktu mulai dan berhenti, alasan mengapa terjadi keterlambatan, pengangkatan oleh crane dan sebagainya.
e. Melaporkan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi kerusakan atau kelainan mesin.
f. Melaksanakan prosedur operasi sebagaimana telah digariskan oleh pimpinan atau instruksi yang diberikan oleh Assisten/Mandor.
g. Memastikan tandan yang tak terontokkan dihitung dan di catat.
h. Karyawan bagian stasiun Threshing harus tetap berada di stasiun Threshing pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi
i. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Thresing harus dijaga.

BAB VI STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN HOISTING CRANE

Garis Panduan dan Prosedur Operasi Stasiun Hoisting Crane.

1. Cara kerja :
a. Persiapan untuk start harus melakukan pengecekan peralatan Hoisting Crane seperti, kondisi hoisting crane, kabel dan seling hoisting crane, auto feeder.
b. Mengangkat lorry ke auto feeder.
c. Kerja sama dengan petugas rantai ( Rail track )
d. Menunggu tanda dari petugas rantai ( Rail track ) untuk mengangkat lorry.
e. Melakukan pengangkatan agar rantai bisa tepat pada cincin lorry.
f. Menunggu tanda kedua dari petugas rantai ( Rail track ) untuk mengangkat lorry secara sempurna.
g. Mengangkat dengan sempurna dan meningkatkan kecepatan hingga lorry mencapai ketinggian maksimal.
h. Mengarahkan lorry ke auto feeder.
i. Menempatkan lorry pada posisi yang benar di atas auto feeder.
j. Membalikkan lorry secara perlahan-lahan hingga benar - benar terbalik.
k. Mengembalikan lorry pada posisi benar.
l. Mengembalikan lorry setelah lorry stabil.
m. Menempatkan lorry dengan tepat diatas rail
n. Menurunkan lorry kosong ke rail
o. Bekerja sama dengan petugas rantai ( Rail track )
p. Memperlambat lorry sebelum mencapai ketinggian badan petugas rantai( Rail track )
q. Membiarkan petugas rantai untuk memegang lorry agar lebih mudah untuk di stabilkan.
r. Menunggu tanda dari petugas rantai sebelum di letakan di atas rail
s. Menurunkan lorry secara sempurna
t. Memastikan bahwa rantai sudah di lepaskan dari cincin.
u. Melepaskan rantai untuk pengangkatan lorry berikutnya.
v. Menurunkan rantai apabila lorry sudah ditempatkan pada posisinya
w. Menjaga kebersihan pabrik pada waktu pabrik tidak prosess harus bekerja sama dengan petugas stasiun rantai( Rail track ) untuk membersihkan hoisting crane dan plat form.
x. Dilarang berdiri atau lalulalang di bawah hoisting crane/pada saat hoisting crane operasi karena hal ini sangat berbahaya.
2. Pencatatan :
a. Waktu menghidupkan dan menghentikan mesin
b. Pencatatan setiap lori yang diangkat ( diolah ) dalam lembar kerja ( log sheet ).

3. Tugas - Tugas Operator
a. Tetap memelihara kebersihan mesin-mesin di lingkungan kerja.
b. Memastikan pengoperasian Hoisting crane dengan benar.
c. Memastikan berapa lori yang harus terangkat setiap jamnya.
d. Tetap melakukan pencatatan seperti waktu menghidupkan dan menghentikan hoisting crane.
e. Memberitahukan kepada Assisten/Mandor yang bertugas jika terjadi gangguan atau kerusakan mesin.
f. Melaksanakan Standart Operasi Prosedur yang telah di gariskan oleh pimpinan seperti prosedur menghidupkan dan menghentikan dan juga Instruksi yang spesifik di berikan oleh Assisten/Mandor yang bertugas.
g. Karyawan bagian stasiun Hoisting Crane harus tetap berada di stasiun Hoisting Crane pada saat jam kerja kecuali ada keperluan/tugas lain demi kelancaran proses produksi.
h. Keutuhan Peralatan/perlengkapan kerja di Stasiun Hoisting Crane harus dijaga.

BAB V STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN STERILIZER

Garis Panduan dan Prosedur Operasi Sterilizer

1. Urutan (sequencing)
a. Pengoperasian Sterilizer dengan urutan yang benar sangat penting, dengan maksud pergerakan lori masuk dan keluar berjalan dengan mulus dan juga agar uap panas( steam ) digunakan secara eficien dan tidak terjadi pemakaian uap mendadak yang mana akan mengakibatkan ketel uap( Boiler ) mengalami kelebihan beban dan membuat siklus sterilisasi terganggu pada saat terjadi penggunaan uap yang rendah.
b. Urutan operasi seperti dibawah ini :
* Instalasi dengan 3 sterilizer : 1 : 3 : 2
Instalasi ini digunakan supaya adanya ruang yang lebih luas pada saat bekerja oleh operator rebusan dan operator rail track pada saat pengangkatan lori di sta Hoisting crane.
c. Saat pembukaan katup pemasukkan uap kedalam sterilizer sangat penting dan sedapat mungkin terkendali sesuai dengan siklus.

2. Pemasukkan Lori ( Charging )
a. Lori yang masuk kedalam sterilizer harus dimasukkan dengan menggunakan Capstan / Winch dan operator harus memastikan kaitan( hook ) antara lori satu sama lain telah dipasang dari setiap sterilizer memuat 12 lori.
b. Penyusunan lori yang berisi USB tidak boleh di tengah – tengah rebusan( bisa didepan atau dibelakang posisinya) karena dikhawatikan akan menyumbat pipa exhaust pada saat buang udara dan perebusan menjadi tidak maksimal.
c. Lori buah yang masak harus dikeluarkan terlebih dahulu dengan menggunakan capstan / winch, setelah itu baru lori yang belum masak dimasukkan.
Waktu pengosongan sterilizer harus kurang dari 15 menit( distribusi keluar masuk rebusan lebih cepat lebih baik ).
d. Setiap lori yang jatuh didepan sterilizer harus ditangani dengan hati – hati dan operator harus melaporkan hal ini kepada Assisten / mandor.
e. Lori harus dipastikan lurus supaya tidak nabrak sterilizer.
Apabila ada lori yang sudah lebar/rusak perlu perhatian khusus bagi op rebusan berkoordinasi dengan op rail track untuk memarkirkan lori tersebut supaya adanya perbaikan oleh pihak maintenance

3. Prosedur Operasi
a. Memasukkan
1). Sterilizer dalam keadaan kosong dan satu rebusan lori TBS telah siap untuk dimasukkan.
2). Tekanan uap di dalam sterilizer nol dan pintu dalam keadaan terbuka.
3). Katup pemasukkan uap ( Steam Inlet Valve ) dalam keadaan tertutup.
4). Katup pelepasan uap ( Steam Exhaust Valve ) dalam keadaan terbuka.
5). Katup condensate dan kran by pass dalam keadaan terbuka.
6). Kran pengaman pintu dalam keadaan terbuka.
7). Lori TBS dimasukkan ke dalam sterilizer.
b. Perebusan( Sterilizing )
1). Lori berisi TBS telah berada didalam sterilizer.
2). Tutup pintu sterilizer dan dikunci sampai indikator jatuh.
3). Tutup kran pengaman pintu.
4). Tutup katup pelepasan.
5). Buka secara perlahan-lahan katup pemasukkan uap.
6). Ketika tekanan uap mencapai 15 psi (± 1 kg/cm2 ) tutup katup kondensat. Hal ini jika dilakukan secara manual, apabila secara otomatis, maka pembukaan & penutupan katup sesuai dengan waktu yang diprogram.
7). Tekanan uap induk harus tetap pada 40 psi (± 2.7 kg / cm2 ). Apabila tekanan uap di rebusan tidak tercapai dan berkisar dibawah 2.7 kg / cm2 maka dilakukan penambahan masa tahan 10 menit sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
8). Masa perebusan biasanya sekitar 85 s/d 90 menit dan tergantung juga dari kualitas TBS. Apabila TBS restan perebusan berkisar antatra 70 s/d 75 menit.
9). System perebusan yang dipakai adalah Triple peak( tiga Puncak )

Tetapi apabila kondisi tekanan uap yang dihasilkan oleh boiler tidak mencukupi / kecenderungan steam kurang maka dipakai sistem Double peak( dua puncak ) supaya kapasitas olah( Througput) tercapai sehingga proses berjalan lancar dan maksimal.
c. Pengosongan ( Blow off )
1). TBS telah direbus selama kurang lebih 85 s.d 90 menit.
2). Tutup katup pemasukan uap.
3). Buka katup kondensat.
4). Buka katup pelepasan ( Exhaust Valve ) dan kosongkan uap.
5). Pada saat manometer menunjukkan nol, buka kran pengaman pintu.
6). Jika uap sudah tidak keluar dari kran pengaman pintu, buka pintu perlahan - lahan. Perhatian yang besar harus dilakukan pada saat pembukaan pintu dan operator harus berdiri dalam jarak yang aman untuk menghindari ayunan pintu. Jangan berdiri dibelakang pintu.
7). Tarik keluar lori yang berisi TBS yang telah direbus dengan Capstand/Winch.

4. Deaerasi dan pembuangan kondensat.
a. Deaerasi sangat penting dilakukan agar udara dingin dapat keluar dari sterilizer. Hal ini memungkinkan diperolehnya temperatur tertinggi pada saat tekanan sterilisasi.
b. Pelepasan kondensat sangat penting dengan tujuan :
1). Mencegah korosi yang berlebihan pada sterilizer dan lori
2). Mencegah banjir( Flooding ) didalam Sterilizer yang akan menyebabkan :
a). Menyebabkan rusaknya bearing / bushing roda lori.
b). Mempengaruhi perpindahan panas dan sterilisasi TBS pada bagian bawah lori .
c). Mencuci minyak pada permukaan buah sehingga meningkatkan kehilangan minyak( Oil losses).
d). Membahayakan operator pada saat membuka pintu.

5. Mulai proses pagi hari
a. TBS yang telah direbus harus tetap dibiarkan semalam di dalam sterilizer agar proses pagi hari dapat dimulai dan proses produksi dapat dipercepat sekitar 1 jam. Oleh karena diperlukan 3 rebusan yang di biarkan didalam sterilizer jika proses produksi telah selesai pada malam hari.
b. Prosedur yang dilakukan sebagai berikut :
1). Pada penghentian produksi, sterilisasi TBS yang akan dimalamkan harus tetap diselesaikan, setelah itu kondensat harus dibuang sesuai dengan prosedur normal. Pintu harus dibuka di longgarkan kuncinya dan dibiarkan dalam keadaan tersebut. Hal ini untuk mencegah terjadinya kevakuman didalam sterilizer. Jika sterilizer dilengkapi Vaccum Breaker, pintu tidak perlu dilonggarkan.
2). Pagi hari, sterilizer harus ditutup dan buah harus diberi uap selam 20 menit sebelum dikeluarkan selama periode pemanasan, drain harus cukup terbuka untuk mengeluarkan kondensat.
3). Setelah buah dikeluarkan, pabrik siap untuk beroperasi. Program sterilisasi setiap hari harus dimulai dengan siklus pada sterilizer pertama.

6. Akhir siklus sterilisasi
a. Plat saringan( Strainer ) didepan Sterilizer harus digaruk dan dibersihkan, setiap brondolan dan tandan harus dibuang ketempat pembuangan / dimasukkan kedalam lori kosong.
b. Ring pintu harus diperiksa dan tetap bersih.
c. Brondolan / sampah harus di buang dari pintu dan kerangkanya.

7. Pembersihan Harian
a. Bersihkan kotak / parit di depan Sterilizer dari brondolan dan tandan.
b. Periksa dan bersihkan packing pintu dan landasannya.
c. Periksa dan bersihkan setiap Strainer dan pastikan pipa saluran kondensate tidak tersumbat.

8. Garis panduan Untuk Pengendalian Mutu Dan Kapasitas Olah :
a. Tekanan uap harus tetap sepanjang waktu.
b. Pembuangan udara dan kondensat yang benar harus dipertahankan.
c. Sterilizer harus dioperasikan sesuai dengan urutan.
d. Keterlambatan pengisian lori dan lori yang keluar dari rel seminimal mungkin.
e. Tandan yang tak terontokkan ( USB ) tidak melebihi 2.5 %.

9. Pencatatan :
a. Pencatatan sterilizer sangat penting untuk mengetahui kapasitas olah selama masa produksi. Waktu perebusan harus di catat di log sheet tulis yang telah disediakan dan disalin kelembar kerja pada akhir shift untuk diserahkan kepada Assisten/ Mandor.
b. Grafik Sterilizer harus tetap dalam kondisi baik dan pencatatan siklus harus tetap dipertahankan. Kertas grafik harus diganti sebelum proses produksi dimulai pada pagi hari.

10. Tugas – Tugas Operator :
a. Mengopersikan mesin secara aman dan benar.
b. Memastikan kapasitas olah( Troughput ) maksimal.
c. Menjaga peralatan pencatat( Pressure Recorder )
d. Menginformasikan kepada Assisten / mandor yang bertugas setiap ada kelainan mesin atau kerusakkan.
e. Melaksanakan prosedur operasi sesuai yang digariskan pimpinan seperti prosedur menjalankan dan menghentikan atau instruksi yang di berikan oleh Assisten / mandor yang bertugas.
f. Tetap menjaga kebersihan di stasiun sterilizer
g. Keutuhan Peralatan / perlengkapan kerja di Sta Sterillizer harus dijaga.

PERINGATAN : KESELAMATAN DI STASIUN STERILIZER HARUS DIPERHATIKAN SUNGGUH – SUNGGUH .
90 % KEJADIAN YANG FATAL DIPABRIK KELAPA SAWIT TERJADI PADA STASIUN STERILLIZER.

BAB IV STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN LOADING RAMP

Garis panduan dan prosedur operasi loading ramp

Cara kerja :
1. Operator harus bisa bekerja sama dengan petugas sortasi dan memastikan TBS yang dibongkar dilantai dibongkar ditempat yang aman dan petugas sortasi segera menghubungi operator alat berat jika sortasi telah selesai agar di masukkan ke dalam hopper.
2. Jika dalam kondisi panen puncak, dimana TBS yang di bongkar di atas lantai, maka operator bekerjasama dengan petugas sortasi harus mengatur pembongkaran tersebut dan memastikan ada jalan untuk alat berat agar dapat mendorong TBS masuk ke hopper.
3. Brondolan dan tandan yang berada di lantai harus segera di masukkan ke dalam Hopper agar tidak terlindas oleh kendaraan yang mengakibatkan luka. Bagian atas hopper harus tetap bersih sepanjang waktu, operator yang bertugas bekerjasama dengan petugas sortasi harus tetap memastikan hal ini telah dilaksanakan
4. TBS harus dimasukkan ke dalam loading ramp terkontrol secara hati – hati, Hopper harus diisi agar tidak ada kekosongan sepanjang operasi dan pengisian harus berurutan dari pintu ke pintu.
5. TBS harus dimasukkan ke dalam lori berdasarkan yang pertama masuk harus pertama keluar( FIFO = First In First Out ). Jika pengisian loading ramp terkendali maka pengeluarannya juga harus terkendali. Operator harus memastikan pengisian lori tidak terselang – seling dan siklus tersebut harus di ulang secara terus menerus sepanjang operasi.
6. Pengisian dan pengosongan yang terkendali akan mencegah bertumpuknya TBS yang dapat menimbulkan naiknya tingkat ALB/ Asam lemak bebas( FFA = Free Fatty Acid ). TBS yang menumpuk akan menyebabkan terjadinya akumulasi panas akibat dari aktivitas kimiawi dari dalam buah.
7. Lori buah harus diisi sepenuh mungkin dengan tidak menghambat / tersangkut didalam sterilizer. Lori yang tidak penuh akan mengurangi kapasitas sterilizer yang mengakibatkan rendahnya kapasitas olah( Througput ) pabrik.
Pengisian janjangan ke dalam lori apabila terdapat berondolan maka dalam satu lori berondolan diisikan ¼ lori dan janjangan diisikan ¾ lori.
8. Pemasukkan dan pemindahan lori dari dan kedalam sterilizer harus dilakukan dengan memakai Capstand / Winch.
Lori ditarik berdasarkan kekuatan / kapasitas capstand( 40 ton hanya bisa menarik 1 rebusan = 12 lori berisi TBS/30 ton tidak boleh lebih dan tidak boleh dipaksakan karena akan mengurangi umur mesin dan kabel seling cepat putus) dengan operator memberikan tanda berupa aba – aba tangan/suara apabila akan dijalankan untuk menghindarkan kecelakaan kerja.
9. Lori harus tetap dalam kondisi bagus dan diperbaiki secara teratur.
Faktor terpenting yang harus diperhatikan adalah jarak main (pergeseran) proses roda lori tidak boleh melebihi 6 mm karena hal ini akan menyebabkan kasus lori keluar dari rel. Lori keluar dari rel berarti kehilangan waktu yang berpengaruh terhadap kapasitas sterilizer yang berkelanjutan dengan kapasitas giling pabrik ( throughput ).
10. Jumlah lori harus cukup untuk kepentingan proses produksi setiap saat. Hal penting yang diperlukan adalah lori yang telah terisi sedikitnya 2 Rebusan di depan sterilizer yang siap dimasukkan sebelum siklus perebusan buah selesai dan telah dikeluarkan dari sterilizer.
11. Lori yang keluar dari rel harus dikembalikan ke rel dengan menggunakan dongkrak atau pengangkat. Lori tersebut tidak boleh didorong atau ditarik dengan paksa kembali rel karena hal ini akan menghancurkan lantai beton dan akan merusakkan roda lori atau rell.
12. Berondolan dan tandan yang terlempar keluar pada saat pemasukan ke lori tidak boleh berserakan dan harus segera dibersihkan dan dimasukkan kedalam lori.
13. Sampah yang ada di loading ramp harus selalu dibuang ke tempat pembuangan jangan sampai ikut dimasukkan kedalam lori dan brondolan yang telah dipisahkan dari sampah harus dipastikan dimasukkan kedalam lori untuk direbus.
14. Kebersihan daerah loading ramp harus tetap terjamin, brondolan, tandan, sampah harus segera dibersihkan setelah habis proses produksi.
15. Karyawan bagian stasiun loading ramp harus tetap berada di stasiun loading ramp pada saat jam kerja kecuali ada keperluan lain demi kelancaran proses produksi
16. Keutuhan peralatan / perlengkapan kerja di Stasiun Loading Ramp harus dijaga.

BAB III STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN SORTASI

Garis Panduan dan Prosedur Operasi Sortasi

1. Persiapan Kerja

a. Pastikan peralatan kerja untuk sortasi cukup seperti :
 Kapak
 Tojok
 Sekop
 Sapu lidi
b. Semua pekerja yang bekerja dibagian sortasi harus mengetahui dan mengerti Rendement TBS secara visual.
c. Semua pekerja diwajibkan memakai perlengkapan kerja seperti( sepatu boot dan helm )
d. Semua pekerja harus jujur dan bertanggung jawab atas semua perbuatan dan akibat yang ditimbulkan selama melakukan sortiran.
e. Melaporkan semua kecurangan dan kecurigaan yang terjadi selama melakukan sortasi kepada assisten sortasi.

2. Sortasi TBS

Prosedur melakukan sortasi dengan benar sebagai berikut :
a. Mobil TBS sebelum disortasi harus lapor terlebih dahulu kepada security untuk pengantrian penimbangan sesuai dengan nomor urut mobil masuk dan menyerahkan surat pengantar dari supplier.
b. Penimbangan mobil diatur dengan pengaturan 5 mobil sekali naik untuk disortasi atau beradasarkan perintah langsung dari Assisten sortasi dengan penimbangan bergantian dan pada saat penimbangan pertama sopir harus turun ( didalam mobil tidak boleh ada orang ).
c. Masukkan data penimbangan pertama sebagai berikut :
 Nama supplier
 No. Polisi
 Tanggal
 No. Tiket Timbangan
 Berat Bruto
 Jam masuk dan jam keluar
d. Setelah penimbangan pertama selesai selanjutnya sopir TBS diberikan grading form untuk selanjutnya membawa TBS yang diangkut untuk disortasi di loading Ramp.
e. Selanjutnya sopir TBS menyerahkan grading form kepada petugas sortasi yang akan mangatur dimana mobil TBS akan di sortasi dan dibongkar.
f. Petugas sortasi menerima grading form dan mencocokkan SPB yang masuk dengan kwalitas TBS yang akan disortasi.
g. Pelaksanaan sortasi
Mobil TBS masuk ke area sortasi dan TBS siap di sortasi yang dilaksanakan minimal 2 ( dua ) orang untuk setiap 1 ( satu ) mobil TBS.
h. Melaksanakan sortasi sesuai dengan kriteria sebagai berikut :
 TBS Mentah
 TBS sakit ( abnormal ) diatas 30%
 Tandan kosong
 TBS kecil ( dibawah 5 kg )
 TBS campur pasir
i. Menyetop pembongkaran TBS dan melaporkan kepada Assisten/Mandor apabila mendapati TBS yang tidak sesuai dengan Kriteria aturan sortasi.
j. Memeriksa, membandingkan, menganalisa dan mengisi grading form sortasi dengan baik dan benar.
k. Mencatat hasil pengisian grading form kedalam buku di sortasi.
l. Melaporkan kecurangan dan kecurigaan yang terjadi ditempat sortasi kepada Assisten sortasi.
m. Melakukan pengaturan sortasi dengan System FIFO ( First in first out )
n. Setelah selesai sortir selanjutnya grading form ditandatangani oleh Mandor/ Operator/Krani/Assisten serta supplier atau sopir mobil TBS.
o. Selanjutnya sopir TBS diperkenankan meninggalkan tempat sortasi dengan membawa grading form dan melakukan penimbangan kedua, dan saat penimbangan sopir harus turun dari mobil dan menyerahkan Grading form kepada petugas timbangan untuk melakukan penghitungan terhadap TBS yang telah disortasi sesuai dengan grading form.
p. Setelah penimbangan kedua dan administrasi penimbangan telah selesai sopir sudah dapat diperkenankan untuk meninggalkan PMKS PT. Angso Duo Sawit.

3. Kriteria Penerimaan TBS

a. Buah Plasma ( Jenis Tenera )
 Plasma I : Buah ini besar harus sama/rata tanpa dura
 Plasma II : Buah ini besar tidak harus sama/rata, Toleransi dura 10 %
Potongan 1.5 % keatas

b. Buah Kebun Pribadi ( Buah ini harus segar dengan toleransi dura 50 % )
 Ukuran 16 Kg keatas
 Ukuran 11 Kg keatas
 Ukuran 6 Kg keatas
Potongan wajib 2.5 % keatas.
c. Buah masyarakat ( Buah ini adalah buah campur dengan toleransi dura 40 % )
 Ukuran 16 Kg keatas
 Ukuran 11 Kg keatas
 Ukuran 6 Kg keatas
Potongan wajib 3.5 % keatas

Catatan :

 Buah Mentah : Buah yang mempunyai daging buah bewarna hijau atau kuning pucat tanpa ada warna orange.
 Buah Sakit : Buah dengan kondisi brondolan yang besarnya tidak rata dan brondolan kecil-kecil bewarna hijau atau kuning pucat.

4. Kebersihan dan pelayanan

a. Menjaga dan memelihara agar stasiun sortasi dalam keadaan bersih pada saat masuk dan pulang kerja.
b. Menjaga dan memelihara peralatan kerja agar selalu tersusun rapi dan di simpan di tempat yag telah disediakan.
c. Memberikan layanan dan informasi yang benar kepada supplier TBS/Sopir TBS di saat sortasi sedang berlangsung.

BAB II STANDART OPERASI PROSEDUR ( SOP ) STASIUN TIMBANGAN

1. Persiapan Kerja
a. Periksa keadaan timbangan dan peralatan kerja
b. Operator bekerjasama dengan petugas untuk memeriksa seputar stasiun timbangan termasuk lantai bawah jembatan timbang.
c. Periksa kondisi load cell, harus dalam kondisi baik.
d. Periksa keberadaan computer harus lengkap dengan printer.
e. Periksa kabel – kabel dibawah timbangan harus dalam keadaan kering dan tidak ada yang putus.
f. Periksa kertas, karbon, dan alat tulis termasuk persediaan segel untuk Cpo & kernel.
g. Pastikan dijembatan timbangan tidak ada kotoran seperti, tanah dan benda – benda asing yang mengganggu operasional timbangan.

2. Start Pengoperasian
a. Pasang semua kabel – kabel konektor dengan benar.
b. Hidupkan UPS
c. Hidupkan computer dan pastikan tanggal dan jam dilayar monitor harus sama dengan tanggal hari ini. Jika ada kelainan settinglah tanggal dengan menyelipkan data dan buatlah tanggal yang benar, jika timbul masalah laporkan kepada KTU.
d. Pastikan pada setiap penimbangan indicator menunjukkan zero.
e. Memastikan mobil yang ditimbang tepat berada diatas jembatan timbang.

3. Penimbangan
I. Penimbangan TBS
Melakukan penimbangan dengan benar sebagai berikut :
a. Setiap kendaraan angkutan TBS harus menyerahkan SP (Surat Pengantar) Supplier sebelum ditimbang dengan data sebagai berikut : tanggal, no lokasi, asal supplier. Dan sebelumnya sopir harus melapor kepada security untuk pengaturan TBS masuk.
b. Lakukan penimbangan, pertama sopir harus turun
c. Masukkan data pada saat timbang pertama.
d. Pada saat dimonitor menerangkan apakah data sudah benar? periksa secara visual, pastikan sopir sudah turun dari kendaraan dan tidak ada lagi yang mengganggu pada saat penimbangan. Lalu tekan enter.
e. Tuliskan berat pertama pada kolom surat pengantar dengan jelas
f. Lakukan penimbangan kedua setelah TBS dibongkar dengan memasukkan data kendaraan dengan benar.
g. Pada saat penimbangan kedua, sopir harus turun dari atas kendaraan sebagaimana penimbangan pertama.
h. Mencetak tiket hasil timbangan dengan copy 1 x 4 lembar untuk :
• 1 lembar tiket warna hijau untuk sopir angkutan TBS
• 1 lembar tiket warna putih untuk kantor pusat Jakarta
• 1 lembar tiket warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar tiket warna kuning untuk arsip kantor
i. Semua angkutan diperlakukan sama.
j. Mencatat data penimbangan pada buku timbangan.
k. Memeriksa kembali buku catatan data timbangan TBS pada saat akan tutup timbangan.

II. Menimbang CPO
Melakukan penimbangan setiap tangki CPO dengan benar sebagai berikut :
a. Mobil tangki datang ke PT. Angso Duo Sawit.
b. Sopir mobil tangki CPO mendaftar ke pos security untuk meminta/ mengambil surat izin pengisian.
c. Pemeriksaan oleh petugas security terhadap mobil tangki supaya dalam kondisi bersih isi dalam tangki sebelum tahap pengisian dilakukan, apabila isi dalam tangki kotor, sopir mobil tangki diminta untuk membersihkannya dan bila tidak ditaati maka tidak boleh mamasuki area perusahaan.
d. Sopir mobil tangki CPO menyerahkan surat izin pengisian dan surat DO dari perusahaan/angkutan yang ditunjuk sebagai mitra dalam expedisi/ pengangkutan CPO kepada Staff kantor/krani produksi untuk dilakukan pengecekkan lebih lanjut dan ditanda tangani oleh yang berwenang.
e. Sesudah administrasi selesai, surat izin pengisian dan surat DO dari expedisi/ pengangkutan diserahkan kebagian timbangan dan diperiksa oleh Staff timbangan/pengawas timbangan.
f. Penimbangan mobil tangki CPO dilaksanakan dengan pengawasan petugas security ditimbangan untuk memperlancar dan menghindari kecurangan pada saat mobil tangki CPO ditimbang dan pastikan pada saat penimbangan sopir harus turun dan amati kebenaran berat tangki kosong.
g. Masukkanlah data yang dibutuhkan dengan benar sebagai berikut :
• No Polisi
• Nama angkutan
• Tujuan
• No DO
• Tanggal DO
• No SPB
• Tanggal SPB
• No segel
• Kadar air , kotoran dan FFA
h. Mobil tangki CPO masuk ke area pengisian sesuai dengan nomor antri kedatangan mobil tangki tersebut.
i. Drainase CPO dari tangki timbun sampai bersih( dilakukan oleh petugas pengisian/despacth ) sebelum dilakukan pengisian kemobil tangki disaksikan oleh Staff kantor/krani produksi. Stock Cpo yang tidak dapat di ambil ( stock mati ) dari Storage tank No. 1 (500 ton ) ± 15 ton dan storage No. II ( 1.000 ton ) ± 30 ton.
j. Pengisian CPO ke mobil tangki dilakukan
k. Setelah mobil tangki CPO diisi kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa muatan yang akan dibawa oleh mobil tangki tersebut dan pastikan pada saat penimbangan sopir harus turun.
l. Setelah timbang kedua tiket penimbangan diprint 4 rangkap dari SPB diprint 4 rangkap sebagai :
• 1 lembar tiket warna putih untuk sopir angkutan CPO
• 1 lembar tiket warna hijau untuk kantor pusat Jakarta
• 1 lembar tiket warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar tiket warna kuning untuk kantor
m. Petugas security kemudian menyegel mobil tangki setelah selesai ditimbang dan sebelum berangkat/meninggalkan area pabrik.
n. Sopir mobil tangki mengambil surat bukti timbang/surat jalan dari petugas timbangan dan diserahkan kepad Staff kantor/Krani produksi untuk menyelesaikan administrasinya dan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.
o. Setelah surat jalan/administrasi selesai dan segel sudah terpasang mobil tangki CPO dipersilahkan untuk diperiksa dipos security untuk memastikan segel dan kelengkapan surat jalan lengkap.
p. Mobil tangki CPO diperkenankan meninggalkan area PT. Angso Duo Sawit.

III. Penimbangan Inti ( Kernel )
Melakukan penimbangan truck inti ( kernel ) dengan benar sebagai berikut :
a. Mobil truck kernel ( inti ) masuk ke PT. Angso Duo Sawit.
b. Sopir mobil truck kernel ( inti ) mendaftar ke pos security untuk meminta/ pengambilan surat izin pengisian
c. Pemeriksaan oleh petugas security terhadap mobil truck supaya dalam kondisi bersih isi dalam truck sebelum tahap pengisian dilakukan ( apabila isi dalam bak truck kotor, sopir mobil truck diminta untuk membersihkannya dan bila tidak ditaati maka tidak boleh memasuki area perusahaan.
d. Sopir mobil truck kernel/inti menyerahkan surat izin pengisian dan surat DO dari perusahaan angkutan yang ditunjuk sebagai mitra dalam expedisi/pengangkutan kernel kepada Staff kantor/Krani produksi untuk dilakukan pengecekkan lebih lanjut dan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.
e. Sesudah administrasi selesai surat izin pengisian dan surat DO dari expedisi/ pengangkutan diserahkan kebagian timbangan dan diperiksa oleh Staff timbangan/pengawas timbangan
f. Penimbangan mobil truck kernel/inti dilaksanakan dengan pengawasan petugas security ditimbangan untuk memperlancar dan menghindari kecurangan pada saat mobil ditimbang dan pastikan pada saat penimbangan pertama sopir truck harus turun.
g. Ketikkan data yang dibutuhkan dengan benar sebagai berikut :
• No polisi
• No DO dan Tanggal DO
• No SPB dan Tanggal SPB
• Nama angkutan
• Tujuan
• Data kadar air dan kotoran
• No segel
h. Mobil truck kernel/inti masuk ke area pengisian sesuai dengan nomor antri kedatangan mobil ke area perusahaan.
i. Pengisian kernel/inti ke mobil truck dilakukan.
j. Setelah mobil truck kernel diisi kemudian ditimbang untuk mengetahui berapa muatan yang akan dibawa oleh mobil truck tersebut. Dan pastikan pada saat penimbangan kedua, sopir truck harus turun.
k. Mencetak/print tiket penimbangan inti ( kernel ) 4 rangkap :
• 1 lembar tiket warna putih untuk sopir angkutan kernel/inti
• 1 lembar tiket warna hijau untuk kantor pusat Jakarta
• 1 lembar tiket warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar tiket warna kuning untuk arsip kantor
Disertakan beberapa surat diantaranya :
1. Berita acara pemeriksaan sample 3 rangkap :
• 1 lembar warna putih untuk sopir
• 1 lembar warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar warna kuning untuk arsip kantor.
2. Surat jalan dari PT Angso Duo Sawit 3 rangkap :
• 1 lembar warna putih untuk sopir
• 1 lembar warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar warna kuning untuk arsip kantor
l. Petugas security kemudian menyegel mobil truck kernel setelah selesai ditimbang dan sebelum berangkat/meninggalkan area pabrik.
m. Sopir mobil truck kernel mengambil surat bukti timbang/surat jalan dari petugas timbangan dan diserahkan kepada staff kantor/krani produksi untuk menyelesaikan administrasinya dan ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.
n. Setelah surat jalan/administrasi selesai dan segel sudah terpasang mobil truck kernel dipersilahkan untuk diperiksa di pos security untuk memastikan segel dan kelengkapan surat jalan lengkap.
o. Mobil truck kernel dipersilahkan meninggalkan area PT. Angso Duo Sawit.

IV. Penimbangan Solar
Penimbangan tangki solar dengan benar adalah sebagai berikut :
a. Tangki yang akan ditimbang harus dilengkapi SPB yang benar
b. Saat penimbangan sopir harus turun
c. Pastikan data – datanya benar seperti :
• No polisi
• No SPB / Faktur
d. Keterangan jumlah liter
e. Setelah timbangan pertama faktur diserahkan kepada petugas gudang yang bertugas dalam penerimaan solar.
f. Penimbangan kedua setelah tangki kosong, sopir harus turun saat ditimbang.
g. Mencetak 1 x 4 hasil penimbangan setelah ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang.
• 1 lembar tiket warna putih untuk arsip Purchasing
• 1 lembar tiket warna hijau untuk sopir/suplier
• 1 lembar tiket warna merah untuk arsip gudang
• 1 lembar tiket warna kuning untuk arsip kantor/timbangan

V. Penimbangan penerimaan gudang seperti CaCo3, semen , pasir
a. Penimbangan kendaraan untuk material gudang sopir harus turun untuk penimbangan pertama dan penimbangan kedua.
b. Mencetak hasil penimbangan 1 x 4 setelah ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang .
• 1 lembar tiket warna putih untuk arsip Purchasing
• 1 lembar tiket warna hijau untuk sopir/suplier
• 1 lembar tiket warna merah untuk arsip gudang
• 1 lembar tiket warna kuning untuk arsip kantor/timbangan

VI.Penimbangan Abu Janjangan
Melakukan penimbangan truck abu janjangan dengan benar sebagai berikut :
a. Truck yang akan memuat abu janjangan harus menyerahkan DO yang syah sebelum ditimbang dan juga truck harus periksa oleh satpam/security terlebih dahulu.
b. Setelah kondisi truck benar – benar bersih berikutnya sopir truck diberi surat izin pengisian abu janjangan.
c. Pada saat timbang pertama sopir truck harus turun.
d. Ketikan data yang dibutuhkan dengan benar sebagai berikut :
• No polisi
• No DO dan Tanggal DO
• No SPB dan Tanggal SPB
• Nama angkutan
• Tujuan
e. Penimbangan kedua, setelah truck memuat janjangan kosong sopir harus turun
f. Mencetak/print tiket penimbangan abu janjangan 4 rangkap setelah ditanda tangani oleh pejabat yang berwenang:
• 1 lembar tiket warna putih untuk sopir angkutan abu janjangan
• 1 lembar tiket warna hijau untuk kantor pusat Jakarta
• 1 lembar tiket warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar tiket warna kuning untuk arsip kantor
Disertakan Surat jalan dari PT Angso Duo Sawit 3 rangkap :
• 1 lembar warna putih untuk sopir/angkutan
• 1 lembar warna merah untuk arsip timbangan
• 1 lembar warna kuning untuk arsip kantor
g. Setelah surat jalan administrasi selesai dipersilahkan untuk diperiksa dipos security, bila tidak ada masalah mobil truck pengangkut abu janjangan dipersilahkan meninggalkan area PT. Angso Duo Sawit.

4. Mencetak laporan penimbangan pada saat akan tutup timbangan :
a. Mencetak laporan seluruh data penimbangan menjelang tutup timbangan
b. Memeriksa laporan yang dicetak, perbaiki jika ada yang salah.
c. Mengarsipkan laporan

5. Mematikan timbangan
a. Rapikan alat – alat kerja distasiun timbangan
b. Push off computer dan print
c. Switch off UPS dan stabilizer
d. Lepaskan Cok conection induk dari UPS semua mesin timbangan
e. Kunci jendela dan laci – laci, matikan AC, lampu, dan pintu timbangan dipastikan terkunci.

6. Kebersihan dan pelayanan
a. Memelihara dan menjaga agar stasiun timbangan tetap bersih
b. Operator bekerjasama dengan petugas timbangan setiap saat siaga dan berada distasiun timbangan pada saat jam dinas.
c. Menjaga kerahasiaan intern perusahaan yang dianggap tidak layak diketahui pihak lain.